Zulharman Said

Wartawan : • Editor : Elsy • 2015-06-15 13:14

Zulharman Said, lebih dikenal dengan nama Zulharmans (lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 14 Desember 1933 – meninggal di Singapura, 28 Maret 1993 pada umur 59 tahun). Ia adalah seorang jurnalis dan juga dikenal sebagai organisator andal asal Indonesia. Dia sering duduk dalam berbagai organisasi kewartawanan, perfilman, maupun politik. Zulharmans pernah menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI Pusat) periode 1983-1988 dan sebagai Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia Jakarta Raya (PWI Jaya) periode 1968-1982. Di bidang politik ia pernah menjadi anggota DPRD DKI Jakarta, anggota DPR-RI dan anggota Badan Pekerja MPR-RI.

Ia memulai kariernya sebagai pegawai Departemen Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan di Jakarta pada tahun 1954. Pada tahun itu juga, dia bekerja di jajaran redaksi majalah "Dunia Film". Dari sinilah kemudian ia tertarik untuk mengembangkan minatnya di bidang jurnalistik dan film. Pada tahun 1964, ia menamatkan pendidikan sarjananya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Seperti yang dilansir dari id.wikipedia.org, pada tahun 1960, Zulharmans sempat ditahan pemerintah terkait pemberitaannya dalam koran yang ia pimpin, koran "Hari Minggu." Meski sempat diajukan ke pengadilan, namun hakim membebaskannya.

Kemudian ia menjadi Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi koran "KAMI", Wakil Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi "Empat Lima". Pada 18 Agustus 1985 ia mendirikan dan sekaligus memimpin Harian Ekonomi Neraca, yang merupakan media cetak tentang ekonomi satu-satunya dan yang pertama di Indonesia pada masa itu. Zulharmans juga menjadi direktur pada PT Industri dan Perbekalan Pers (Inpres). Ketika duduk sebagai pimpinan Persatuan Wartawan Indonesia dan Serikat Penerbit Suratkabar, Zulharmans merupakan tokoh yang sangat peduli terhadap kehidupan wartawan dan keberlangsungan dunia pers. Namun ketidakcocokannya dengan pemerintah Orde Baru, menyebabkan ia tersingkir dari kedudukannya sebagai Ketua Umum PWI Pusat. Ia digeser dalam kongres PWI di Samarinda, Kalimantan Timur, dan digantikan oleh Sugeng Wijaya, seorang perwira ABRI pemimpin redaksi "Berita Yudha".