Netri Yeni, Penulis Surat Terbuka pada Wako Pariaman

Wartawan : Zikriniati ZN - Padang Ekspres • Editor : Riyon • 2016-01-12 10:24

Kerisauan Keberadaan Orgen Tunggal Mesum

Beberapa hari terakhir netizen heboh dengan beredarnya surat terbuka dari seorang warga kepada Wali Kota Pariaman. Netri Yeni, begitu perempuan muda yang aktif menulis di blog. Dia mengkritisi persoalan orgen tunggal dengan biduan berpakaian minim. Siapa sebenarnya Netri Yeni ini?

Mengawali pejumpaan dengan Padang Ekspres, Netri Yeni, 24, yang saat ini berprofesi sebagai penulis lepas tak menyangka tulisannya itu mendapat tanggapan positif dari berbagai kalangan.

Tulisan itu sebenarnya dibuat pada tahun 2013 lalu, berawal karena kerisauannya melihat maraknya orgen tunggal dengan biduan berpakaian minim dimana-mana. Padahal saat itu Pemko Pariaman sedang gembar-gembornya dengan gerakan maghrib mengaji.

Ia berharap gerakan positif Pemko Pariaman itu akan mengurangi kegiatan orgen tunggal mesum itu. Hingga niat untuk mempost tulisan di blog-nya itu ia undur saja, dengan harapan situasi berubah, orgen tunggal mesum ditinggalkan orang.

“Saat menulis itu saya sedang Praktik Lapangan (PL) di SMPN 3 Pariaman, sebagai mahasiswa STKIP YDB Lubuk Alung. Jadi mungkin banyak yang mengira saya seorang guru, namun saat ini keseharian saya adalah penulis lepas, saya belum mengajar,” ujarnya sekaligus ingin mengklarifikasi pemberitaan media yang menyebutkan ia seorang guru.

Klarifikasi ini penting, kata Netri, karna ia takut dikira membohongi publik. Lanjut ke tulisannya yang mengguncang dunia maya itu, semakin hari, harapannya tentang magrib mengaji yang bisa menekan peredaran orgen berbiduan seksi, jauh panggang dari api. Alih-alih berkurang, kehadiran orgen maksiat menjadi-jadi. 

Netri tak menyangka, di kota kecil kelahirannya, hal tersebut seakan sudah biasa. Padahal saat hidup di kota besar, anak ke empat dari lima bersaudara ini tak pernah menemui orgen ibarat diskotik jalanan ini.

Justru di kampungnya dengan mudah ia temui, saat mengunjungi pesta pernikahan tetangga, teman, kerabat dan lainnya. 

Ditambah lagi kerisauan teman-teman sebayanya yang tak dapat tidur kalau sudah musim baralek, karna orgen mesum beraksi hingga jelang subuh. Ibaratnya azan subuh saja yang sanggup menghentikan aksi orgen mesum itu. 

Sengaja kata Netri dalam tulisan surat terbuka kepada Wali Kota Pariaman itu ia memposisikan diri sebagai kemenakan, karena hubungan mamak kemenakan lebih dekat dibandingkan hubungan pak wali kota dengan warga. “Makanya tulisan itu kemudian saya posting di blog saya beberapa waktu lalu,” ujarnya. 

Netri sadar ini tanggung jawab bersama yang tak bisa diserahkan begitu saja kepada pemerintah, namun juga tanggung jawab pemuka adat di desa dan kelurahan. Namun tentunya kendali besar ada di pemuncak pimpinan, kalau semua bergerak, ia optimis orgen maksiat bisa hilang di Kota Pariaman, semoga. 

Secara terpisah, Wakil Wali Kota Pariaman Genius Umar menyebutkan Pemerintah Kota Pariaman sudah banyak berbuat untuk mengatasi permasalahan ini, bahkan Genius pribadi sering seorang diri datang ke pesta pernikahan yang menggelar orgen maksiat tersebut dan menghentikannya saat itu juga. 

Saat aksi menghentikan orgen mesum itu, justru penolakan datang dari masyarakat, dengan alasan sesekali berhibur seperti itu. Namun Genius tetap orgen maksiat itu dihentikan. Namun memang keterbatasannya, membuat ia pribadi tak bisa selalu ia lakukan. 

Dalam hal ini Pemko Pariaman juga sudah berkoordinasi dengan Polres Pariaman dan Satpol PP untuk menertibkan orgen mesum tersebut, namun anehnya justru penolakan datang dari masyarakat dan tuan rumah yang punya hajat.

Ia berharap ninik mamak, tokoh masyarakat bahu membahu mengatasi permasalahan ini. Pemko sudah menelurkan kebijakan dengan Perda, menyiapkan duabalang di setiap desa tapi tentunya tidak ada arti jika masyarakat sendiri yang menginginkan orgen mesum itu ada di tengah mereka. (*)