Wasiat Terakhir

Wartawan : Rio Rinadi • Editor : Riyon • 2016-05-15 10:10

Menjelang waktu magrib masuk, seorang lelaki bermur lebih dari separuh abad dengan muka setengah akan mati, datang dan duduk bersandar di terminal senja. Ya, terminal tempat di mana orang-orang berkumpul, menunggu keberangkatannya. Dan mereka satu sama lain tak saling kenal. Bahkan untuk bertanya nama pun mereka enggan. Yang mereka pikirkan, bagaimana di perjalanan nanti. Bagaimana sesampainya di sana. Apakah akan selamat atau malah celaka. Panjang pikiran orang-orang yang ada di terminal senja itu.

Muka mereka penuh beban. Rambut mereka penuh uban. Banyak pikiran. Karena banyak pikiran itu, rambut mereka sudah dirayapi uban-uban yang melintang.

Tentang orang-orang yang akan ditinggalkan, orang-orang yang ditinggalkan itu akan melambaikan tangan manakala perjalanan sudah dimulai. Ada sejumlah uang atau sekeping tanah yang ditinggalkan oleh orang yang telah berangkat. Sejumlah uang dan sekeping tanah itu dibagi-bagikan sampai ada yang nekat gontok-gontokan. Maka, orang baru berangkat berjalan tadi, iba hatinya melihat kejadian itu. Tak tenang perjalanannya. 

Maka hal yang demikian itu kini tengah dipikirkan Gaek Aba. 

“Aku ditinggalkan anak tiriku di tempat ini,” katanya bercerita ke seorang lelaki yang jauh lebih banyak ubannya.

“Mengapa begitu?” Tanya lelaki yang jauh lebih banyak ubannya itu ke Gaek Aba.

“Aku sendiri tak tahu juga mengapa aku diantarkan ke tempat ini. Tapi, setidaknya aku bersyukur. Aku tidak sendirian. Tidak merasa disindir lagi di rumah itu sebagai kuciang gaek. Biarlah. Kalau itu pula yang membuat senang hati mereka, biarlah. Mungkin mereka akan senang kalau aku angkat kaki dari rumah itu. Atau bahkan aku benar-benar berangkat, mungkin itu kehendak hati mereka.”

“Ada berapa anakmu?” Tanya Engku Tahar singkat.

“Dari istri yang pertama ada dua orang. Yang satu sudah pegawai negeri, tapi beristri banyak, pejudi, mabuk-mabukkan, suka main perempuan di dekat Jalan Diponegoro sana. Yang satu lagi, itu tak pernah pulang-pulang sejak kerusuhan sembilan lapan.”

“Jadi istrimu ada berapa sebenarnya?” Engku Tahar tersenyum mencong.

“Ada dua. Yang kedua ini, Rosima namanya. Dengan istri yang kedua ini aku tak beranak. Aku hanya menggadangkan dua anak orang. Anak dari istriku yang kedua itulah yang meninggalkanku di tempat ini.”

“Istri keduamu masih hidup?”

“Cintanya saja yang masih hidup di dadaku, tubuhnya sudah lama mati. Dan kata anaknya, Bapak kami titipkan saja di sini saja. Kami banyak urusan. Takutnya kami tak bisa mengurus Bapak. Aku yang tua bangka  tak tahu apa-apa ini, menurut saja.”

“Istrimu yang pertama?”Tanya lelaki yang lebih tebal ubannya itu.

“Telah lama bersuami lagi. Sudah lama sekali.”

“O.”

Lelaki yang lebih tebal ubannya itu namanya Engku Tahar. Umurnya tujuh tahun di atas Gaek Aba. Kepada Engku Tahar berceritalah Gaek Aba tentang keluh kesahnya.

“Kalau aku lebih dulu berangkat darimu, tolong carikan anak kandungku, dan berikan wasiat ini ke mereka. Apakah kau mau membantuku?” Pinta Gaek Aba sedikit memelas.

“Ha, ha, ha,” berderai-derai tawa Engku Tahar mendengarnya, “Insyaallah aku akan coba, tapi kalau aku yang lebih dulu berangkat darimu bagaimana?” Lanjut Engku Tahar dengan tawa yang masih tertahan-tahan. 

Lalu mereka sama-sama tertawa. Amplop berisi surat wasiat itu diterima Engku Tahar dari tangan Gaek Aba. “Simpan surat itu baik-baik,” kata Gaek Aba menyuruh mengendapkan.

Semula, mereka berdua itu tak bertegur sapa. Karena memang tak saling kenal. Dan semula, Gaek Aba bingung. Dengan siapalah dia akan berkawan di terminal senja ini. Sementara, hari terasa semakin kelam. Langit mendung. Dan karena sudah sama-sama bosan berdiam-diam, mereka mengakrabkan diri saja.

“Itu seorang lagi sudah berangkat! Kasihan. Dia orang baik di sini,” kata Engku Tahar menunjuk. lalu menunduk.

Berlinang air mata orang-orang yang ada di terminal senja itu. Termasuk Engku Tahar. Sementara, Gaek Aba masih bingung. Mungkin karena baru. Dia tidak begitu kenal dan tahu banyak dengan orang yang baru berangkat itu. Apalagi dengan semua orang di terminal senja itu.

“Di sini tempat kita berpisah. Dan akan bertemu lagi kalau sudah sampai di tempat tujuan. Kalau laku kita baik, kita akan bertemu di tempat yang sama nanti. Tapi kalau tidak, mungkin kita tak akan pernah bersua lagi. Dan bahkan tak saling kenal lagi,” kata Engku Tahar seperti bicara sendiri, padahal Gaek Aba ada disebelahnya.

“Di mana bini dan anak-anakmu?” Kali ini giliran Gaek Aba yang banyak bertanya.

“Mereka sudah dulu berangkat. Mereka telah sampai di sana. Telah tenang dan duduk melintang sambil mengunjurkan kaki. Oleh keluarga istriku, aku disuruh keluar dari rumah gadangnya. Katanya, hakku sebagai semenda semiang pun tak ada lagi di rumah itu.”

“Apa sebab bini dan anakmu berangkat?”

“Tidak tahu. Kalau kubicarakan padamu, entahlah. Rasanya aku ingin segera cepat menyusulnya,” kata Engku Tahar lirih.

“Eh jangan! Tidak baik meminta-minta berangkat. Marah Tuhan! Dan bagaimana dengan surat wasiatku kalau kau pula duluan yang berangkat dariku,” kata Gaek Aba berseloroh.

“Penantian ini terasa amat panjang,” kata Engku Tahar mengeluh.

“Akan lebih panjang lagi kalau kita sudah sampai di terminal sementara di sana. Sementara waktu ke tempat tujuan masih lama. Sehari di sana seperti seabad di sini.”

Sementara itu, malam telah mencuri kesadaran mereka. Satu persatu orang-orang yang berada di terminal senja itu tidur bergalung. Termasuk Engku Tahar yang diam-diam tertidur lebih dulu. Dan tempat itu jadi hening. Sunyi. Tak ada suara. Gaek Aba berusaha memejamkan matanya tapi tak bisa terpejam.

Gelisah. Ada perasaan yang tidak karuan. Dan malam itu rasanya dadanya ditekan-tekan puluhan orang. Ia terbaring lemas di sebelah Engku Tahar yang sejak tadi tidur berkeruh.

***

Ketika pagi pecah berderai, seseorang memekik. “Seorang lagi sudah berangkat! Kasihan. Dia orang baik di sini,” kata Engku Tahar menunjuk. Lalu menunduk
Gaek Aba telah berjalan. Ia telah dijemput. Sampai kehendaknya. Semuanya melihat tubuh Gaek Aba. Ada yang iba, ada pula yang bertanya, “orang mana dia? Di mana kampungnya? Apa sukunya? Di mana keluarganya?”

Di saat seperti itu, tiba-tiba datang seorang lelaki turun dari mobil sedan. 

“Aku mencari Gaek Aba,” katanya.

“Kamu siapanya Gaek Aba?”

“Aku anaknya.”

“Anak kandungnya?

“Ya.”

“Kebetulan. Masuklah cepat.”

Diantarlah lelaki itu masuk ke dalam. Dia heran, mengapa banyak orang memandangnya dengan aneh, sinis, dan menampakkan muka yang masam. “Ayahmu sudah dulu, bawalah dia ke tempat peristirahatan terakhirnya.”

Entah senang atau sedih, yang jelas lelaki itu termenung. Disingkapkannya kain panjang itu, rupanya memang itu ayahnya, Gaek Aba. 

“Kemarin ia sempat menitipkan surat wasiat ini. Ini!” Kata Engku Tahar menyerahkan. Tak lama berselang dengan itu, datang lagi dua orang lelaki bertubuh berdegap. Tinggi. 

“Cari siapa?” Tanya seseorang tua yang duduk di depan halaman.

“Kami mencari Gaek Aba.”

“Kalian ini siapanya?”

“Kami ini anak tirinya. Mana dia?”

“Masuklah, dia ada di dalam,” kata seseorang tua yang berjalan sedikit lambat itu.

Sesampainya di dalam, dilihatnya orang sudah ramai. Duduk melingkari tubuh Gaek Aba yang ditutupi kain panjang. Terkejut mereka berdua. 

“Sudah mati dia rupanya!” kata dua lelaki bertubuh berdegap itu. Mendengar kalimat sumbang seperti itu, lelaki yang datang pertama jadi berang. 

“Apa katamu?!” Hampir mereka bertengkar. Orang di sana melerainya. Anak kandung Gaek Aba bertanya, “Apa alasanmu memaki mayat bapakku, huh?”

“Dia berutang dengan orang. Orang itu sekarang menagihnya ke kami.”

“Berapa utangnya?”

“Sepuluh emas.”

“Baru segitu saja sudah merepet mulut burukmu itu! Ini, Bapak ada menitipkan wasiat ke aku. Tenang saja. Aku akan bayarkan semua utang-utangnya. Tapi aku mau mengurus pemakamannya dulu.”

“Tidak bisa. Bayar dulu. Baru kubur!”

“Gila kau! Tapi sebagai tanda, biar kubacakan isi wasiat ini dihadapanmu. Supaya kau yakin, aku bisa membayar utang-utang itu.”

Dihadapan orang banyak, termasuk Engku Tahar, dan mayat Gaek Aba yang sudah semakin dingin, anak kandung Gaek Aba membacakan isi wasiat dengan lantang. Dirobeknya bibir amplop itu, lalu dikembangkannya secarik kertas yang di dalamnya tertulis kalimat,

“Anak-anakku. Di perjalanan terakhirku, sekali ini aku minta pada kalian, lunasi segala utang-utangku. Utang itu kepergunakan untuk mengobati Rosima semasa hidup. Jika selama ini aku tak pernah meminta apapun dari kalian, anggaplah ini permintaan pertama dan terakhirku. Berbaik-baiklah kalian aku tinggalkan. Abak.”

Mereka semua tercengang. Tak ada suara mengerang apalagi meregang. Mereka benar-benar terdiam. Seperti benar-benar telah tertanam dalam-dalam tubuh Gaek Aba di Air Dingin. Mereka menangis dan bingung apakah mereka harus berdamai dengan kenyataan. (*)

Padang, 28 Maret 2016