Rindu Madura

Wartawan : Subaidi Pratama • Editor : Riyon • 2016-05-15 10:20

Rindu Madura

aku tak tahu harus mengendarai apa
agar cepat sampai kepadamu
di lautmu hanya ada sampan mungil rupa
mengangkut ikan dan bayang-bayangku

sedang rinduku telah menyelam
hingga lubuk paling dasar
di biru lautmu hatiku terpendam
antara ngungun dan gusar

aku ingin pulang 
memelukmu oh sayang

Malang, 2016

Setumpuk Buku

di meja belajar setumpuk buku menatapku
lalu tertunduk melingkar hingga cemas dan bisu
seakan ia bersuara, namun lirih bagai mengampas
di dalamnya aku kerap mencari cinta yang lepas

setiap sunyi kami saling berbagi
aku bagai bulan, buku jadi matahari
bahkan kami sepasang jiwa beraksara
membangun rumah di atas cahaya

Malang, 2016

Kekasih Tuhan
:kepada Musa

kau tumbuh di jalan mushaf
di bukit yang nampaknya lembut
bagai huruf-huruf  hijaiyah dari lidah cadelmu

di antara darah-dagingmu yang di aliri ayat-ayat suci
orang-orang mengerumuni bayang-bayangnya sendiri
dan ingin menidurkan kesepian demi kesepian

tubuhmu adalah surat-surat terangkum dari juz Tuhan
di antara terang cahaya memancar kemasa depan
sebab kau adalah firman berjalan mengitari waktu

Malang, 2016 

Sebutir Pasir di Langit

di ketinggian yang sempit aku terhampar
sebagai sebutir pasir teronggok; terkapar
mengeja-ngeja sisa hujan dalam basah ciuman

maut pun bicara tentang bisik-debar di puncak dada
dan tentang aku yang cuma setitik hampa
mengaji-ngaji wujud mencari rupa

aku bayang-bayangkan wajah bumi
betapa jauh Adam terlempar dari sini
malam pun mengantarkan Hawa pada detak waktu yang fana

sementara masih kudengar isak sunyi
dari ujung rindu menjelma dukaku
sebab batu-batu menolakku dari masa lalu

hingga hari pun tiba kelopak langit terbuka
awan berkelebat jauh menggiringku
mengendap ke belantara kasih dan rindu

Sebutir Telur di Meja Makan

sebutir telur itu mendadak matang dalam kepalaku
sebelum kau santap di hadapan meja makanmu
mungkin segala yang tak nyata kita cecap 
pupus sebelum cakap menjadi hangat ucap

tetapi di meja ini terlalu sempit untuk makan bersama
kau hidangkan air mata yang disulut matahari
sampai derita tersemat di antara lubang dada
lalu kita tumpahkan ke dalam mangkok yang sepi

di meja makan ini kita sepasang manusia lupa diri
bahwa ruang terlalu sempit buat nampung isi hati
karena ruang hanya sebutir telur
kalau sampai waktunya akan hancur

tapi cinta yang bertahun kumatangkan dalam dada
mampu mengalahkan luas semesta
tempat kita lahir lalu tiada

Malang, 2016

Bulan Gugur

Bulan gugur itu berguling-guling 
Di atas tanah
Cahayanya memancar ke ruang-ruang gulita
Memantulkan wajahku

Kulihat ke ruang luas yang terbentang di atas bumi
Seakan di angkasa lapisan udara naik kian tinggi

Kini malam-malam padam tanpa cahaya
Langit bocor membuat kantukku berserak di sana
Jutaan bayang bagai ribuan kilau yang pecah
Memandang jauh berkaca-kaca ke sebuah entah

Tapi meski gelap, burung-burung tetap ceria terbang
Membawa cinta dan segenap resahnya
Ia mengganti bulan gugur dengan sepasang matanya
Lalu bersarang di dalam kenikmatan
Di atas dunia rekaan tanpa bulan

Malang, 2016

Qodbujadin

Itulah kalimat yang kau sebut berulang-ulang
Serpihan empat huruf yang terpental 
Dari ujung lidah orang-orang saleh

Ia tidak menciptakan dengung melainkan gema
Sebab ia adalah qalqalah yang harus jelas diucapkannya

Tetapi ia bukan besi tua yang menopang jiwa 
Meskipun ia berat di lidah-ringan di dada

Bunyi qab pertama kau sukunkan panggilannya
Gema ba kedua kau damahkan menggetarkan jagat fana
Tetapi terkadang orang-orang lego-kerap terlena
Sehingga mereka lupa di antara huruf mana tersimpan surga

Bunyi jim ketiga kau fathakan seperti lafad nasob pada tanda isim 
Terlebih gema dal keempat kau kasrakan membentuk tanda jir 
Dalam keheningan
Menunjuk ke jalan baqa tempat orang-orang saleh 
Mengantarkan ruhnyadengan gembira

Dan di sana serpihan huruf-huruf qalqalah itu bergema 
Ia keras terpental dari ujung lidah
Di mana bunyi qab, ba, jim dan dal
Kau lantunkan dengan fasih hingga mengetuk ajal

“Qodbujadin, qodbujadin”

Malang, 2016

*Subaidi Pratama - Lahir di Sumenep, 11 Juni 1992. Puisinya dimuat banyak media. Dan terkumpul dalam antologi “Festival Bulan Purnama” Trowulan Mojokerto 2010, “Bersepeda Ke Bulan” Yayasan Haripuisi Indonesia 2014, “NUN” Yayasan Haripuisi Indonesia 2015dan “Ketam Ladam Rumah Ingatan” Lembaga Seni & Sastra Reboeng 2016. Kini bergiat di komunitas sastra Malam Reboan di kota Malang.