Penangkapan dan Penghukuman terhadap Perusuh Komunis di Silungkang (1927)

Wartawan : Suryadi Leiden University, Belanda • Editor : Riyon • 2016-05-29 09:43

“Lantaran ditoedoeh tjampoer dalam pergerakan mérah, Kepala Negeri di Sidjoendjoeng telah ditangkap dan ditahan dalam pendjara di Sawah Loento (Sin[ar].Sum[atra]).” (A)

“Oléh Landraad di Sawah Loento didjatoehkan hoekoeman pendjara 15 tahoen pada Salim Emek, karena terda’wa memboenoeh nagarihoofd di Siloengkang, sebeloem timboel peroesoehan kominis di sana. (Bat. Nbld).” (B)

“Dalam perkara pemboenoehan hulppostcommies di Siloengkang, landraad Sawah Loento telah mendjatoehkan hoekoeman doea belas tahoen pendjara pada Berahim dan Doehaim, empat belas tahoen pada Tamin dan Samin dan lima belas tahoen pada Salim Emek. Salim Emek minta soepaja ia digantoeng sadja (Sin[ar] Sum[atra]).” (C)

“Dalam perkara pemberontakan di Loeboek Baoeang (dekat tunnel keréta api ke Sawah Loento) Landraad telah [men]djatoehkan hoekoeman 7 tahoen hoekoeman masing-masing pada 9 pesakitan dan 2 tahoen pada seorang pesakitan (Sin. Sum).” (D)

“Pengadilan Landraad di Sawahloento mendjatoehkan hoekoeman pada pesakitan-pesakitan kominis jang terda’wa menjerang tangsi Veldpolitie di Moeara Kelaban, ja’ni Dt. Bidjo 15 tahoen, 8 orang pesakitan masing-masing 7 tahoen, dan seorang pesakitan 10 tahoen (J.B.)” (E)

***

Laporan majalah Pandji Poestaka No 48, Tahoen V, 17 Juni 1927, hlm. 810 [Kroniek] (A), No 48, Tahoen V, 17 Juni 1927, hlm. 810 [Kroniek] (B, C dan D), dan No 49, Tahoen V, 21 Juni 1927, hlm. 824 [Kroniek] (E) tentang penangkapan-penangkapan dan pengadilan terhadap orang-orang di daerah Silungkang dan sekitarnya yang terlibat dalam kerusuhan menentang Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.

Mereka terlibat dalam kerusuhan yang kemudian dikenal dengan istilah ‘Pemberontakan Komunis Silungkang’. Sebagaimana telah sama diketahui, pemberontakan itu menjalar ke berbagai tempat lainnya di Sumatera Barat, tapi dengan cepat berhasil dipadamkan oleh Rezim Kolonial Hindia Belanda.

Empat laporan di atas memberi informasi kepada kita tentang beberapa orang (lapangan) yang terlibat, yang mungkin selama ini jarang diungkapkan dalam buku-buku sejarah. Rupanya Wali Nagari Sijunjung terlibat dalam ‘gerakan merah’ itu (laporan A).

Sebaliknya, Wali Nagari Silungkang malah menjadi korban dalam kerusuhan itu: dia dibunuh oleh seorang pengikut Komunis yang bernama Salim Emek (laporan B). Salim tampaknya sangat radikal dan pemberani: daripada dihukum 15 tahun penjara, dia minta digantung saja. Beberapa nama lain yang terlibat kerusuhan terungkap di sini (laporan C dan E): Berahim, Doehaim, Tamin, Samin, dan Dt. Bidjo. 

Melalui penelusuran sejarah yang lebih jeli dan detail, adalah sangat mungkin untuk menyusun nama-nama pemimpin lokal yang menggerakkan Pemberontakan Komunis di Sumatera Barat tahun 1926.

Kita tunggu para sejarawan mewujudkannya. (Suryadi – Leiden University, Belanda) “Lantaran ditoedoeh tjampoer dalam pergerakan mérah, Kepala Negeri di Sidjoendjoeng telah ditangkap dan ditahan dalam pendjara di Sawah Loento (Sin[ar].Sum[atra]).” (a) Majalah Pandji Poestaka No 48, Tahoen V, 17 Juni 1927, hlm. 810 [rubrik Kroniek]. (*)