Menulis untuk Mendebat: Naskah Risalah Mizan al-Qalb

Wartawan : Pramono - Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Minangkabau FIB Unand • Editor : Riyon • 2016-05-29 09:45

Wacana Islam lokal di Sumatera Barat memiliki corak yang khas, terutama di era transmisi gagasan dan gerakan pembaharuan Islam yang dimulai pada awal abad XX. Dalam konteks itu, lahir dua macam golongan keagamaan, yaitu “Kaum Tua” atau “Kaum Tradisionalis” dan “Kaum Muda” atau “Kaum Modernis” yang saling berpolemik.

Dalam perkembangannya, dinamika polemik keislaman tersebut menjadi lebih kompleks. Kaum Tua yang juga penganut tarekat tidak hanya berpolemik dengan Kaum Muda, melainkan pada saat yang sama juga menghadapi pertentangan antarsesama penganut tarekat sendiri. Lebih kompleks lagi, polemik keislaman juga terjadi di dalam tubuh satu penganut tarekat yang sama.

Menariknya, justru polemik dan perdebatan itu telah menghidupkan tradisi intelektual di kalangan ulama pada masanya. Para ulama yang terlibat dalam polemik tersebut menulis untuk mendebat pendapat ulama lain. Kondisi ini sekaligus memberi gambaran bahwa surau—pada masanya—bukan sekedar tempat belajar membaca Alquran atau belajar adab.

Lebih daripada itu, surau merupakan center for excelent; sebuah tempat yang menghidupkan tradisi berdebat. Menulis naskah merupakan salah satu alternatif yang dipilih oleh para ulama Minangkabau untuk menolak ajaran yang dianggap tidak benar dan tidak berdasar. 

Tradisi intelektual (penulisan naskah) tersebut ternyata berlanjut—meskipun jumlah dan kualitasnya sangat menurun—masih tetap berlanjut sampai abad kedua puluh. Salah satunya adalah Imam Maulana Abdul Manaf Amin Al-Khatib (1922-2006). Salah satu karyanya yang berisi perdebatan keislaman adalah Risalah Mizan al-Qalb untuk Bahan Pertimbangan bagi Kaum Muslimin Buat Beramal Ibadah Kepada Allah.

“Adapun sebabnya maka disusun buku ini, “ tulis Abdul Manaf dalam naskah tersebut, “adalah berkehendak setengah saudara kita untuk memberi penjelasan tentang adanya dua faham untuk beramal ibadat kepada Allah, yaitu disebut orang Kaum Tua (kaum kuno) dan Kaum Muda (kaum baru) sehingga kami orang awam merasa ragu-ragu manakah yang akan diikuti…Oleh karena kita banyak membaca buku-buku sejarah dan buku hadits, maka dapatlah saya mengabulkan kehendak saudara-saudara kita itu barang alakadarnya.”  

Melalui naskah Mizan al-Qalb ini, kita juga diperoleh informasi bahwa perdebatan dan polemik ternyata tidak hanya terjadi antara ulama Kaum Tua dengan Kaum Muda, tetapi juga terjadi antar sesama ulama Kaum Tua, khususnya sesama penganut tarekat Syattariyah.

Salah satu perdebatannya adalah tentang riwayat Syekh Abdurrauf dan tentang penentuan awal dan akhir bulan Ramadhan. Secara berulang-ulang, penulisnya menyangkal pendapat-pendapat yang dianggapnya tidak benar; dengan berbagai argumen yang menurutnya memiliki dasar yang jelas.

Melalui pembacaan secara tekstual dari naskah ini, dapat diambil beberapa kesan. Pertama, polemik keislaman yang terjadi lebih banyak persoalan khilafiyah dan masing-masing golongan saling mempertahankan dengan berbagai alasan yang dianggap benar.

Kedua, polemik keislaman yang terjadi tidak hanya antara Kaum Tua dengan Kaum Muda, tetapi juga terjadi antar golongan Kaum Tua serta antar penganut salah satu tarekat.

Ketiga, ulama yang mengambil bagian dalam perdebatan dan polemik keislaman telah menunjukkan kebolehan mereka dalam ilmu-ilmu keagamaan. Hal ini mengisyaratkan bahwa penguasaan akan kitab dan model pendidikan surau telah melahirkan banyak ulama yang memiliki kemampuan keagamaan yang luar biasa. (*)