Sirkus

Wartawan : Yetti A.KA • Editor : Riyon • 2016-05-29 09:53

Ia sudah lama menunggu kedatangan sirkus itu. Ia melingkari kalender dengan spidol merah, hitam, atau biru, dan menghitung ulang—terlebih ketika ia merasa waktu bergerak amat lambat—sudah berapa puluh ribu hari ia habiskan untuk menunggu. Lalu sirkus itu benar-benar sampai di kota ini. Ia mendengar dari mulut orang-orang, sirkus itu datang bersama rombongan yang besar.

Mereka mendirikan tenda di lapangan pinggir kota tempat anak-anak suka main sepak bola atau mencari bermacam-macam serangga yang  hinggap di rerumputan.

Mereka membuat kandang-kandang binatang, membuat loket pembelian tiket, menyusun bangku-bangku kayu dalam tenda paling besar—di sana akan diadakan berbagai pertunjukan, termasuk kolaborasi antara manusia dan binatang dalam permainan yang menantang, mendirikan rumah hantu, membuat tenda khusus untuk seorang peramal dengan bingkai mata gelap dan tebal.

Seorang peramal. Itu yang ia tunggu selama ini. Seorang perempuan yang memutar-mutar bola kristal dan menampakkan kukunya yang panjang dan bercat hitam.

Pada perempuan itulah ia ingin menanyakan tentang awan yang menyerupai paruh burung raksasa dalam mimpi-mimpinya. Dalam mimpi yang sama, ia mendapat petunjuk kalau hanya si peramal yang dapat memberinya jawaban. Perempuan yang melihat masa depan lewat bola kristal, termasuk pertanyaan-pertanyaan yang sulit dipecahkan.

***

Ketika arena sirkus sudah mulai dibuka dan loket penjualan tiket untuk atraksi singa dan bola api penuh sesak, ia—mari kita beri nama tokoh ini: Simu—berdiri di pinggir lapangan bersama Molli, adik tirinya yang setengah wajahnya pernah terbakar dan meninggalkan bekas berupa kulit yang mengkerut dan membuat kulit hidung, juga sebelah matanya, ikut tertarik, hingga matanya tampak membeliak.

Dengan wajah monster itu, Molli sering membuat bayi-bayi menjerit ketakutan. Kenyataan yang membuatnya jauh lebih terluka ketimbang kebakaran yang mencelakainya, tapi lama-lama bisa diterimanya dan belakangan membuatnya terhibur. Ia kadang sengaja mengejutkan anak-anak yang sedang bergerombol—biasanya main kelereng atau gundu di sore hari. Anak-anak itu lari tunggang-langgang, meninggalkan mainan mereka dan tidak kembali bermain hingga beberapa lama.

Simu pernah berkata, “Hidup yang beruntung adalah ketika seseorang tahu cara membuat dirinya berbahagia di saat orang lain berpikir kalau itu terlalu mustahil.”

Molli tahu Simu mengutipnya dari seorang pedagang eksentrik yang menjual barang-barang perlengkapan rumah tangga dan mengaku bahagia berkeliling dunia bersama panci-pancinya. Molli juga tahu pedagang itu pembual nomor satu, tapi Simu justru berujar, “Jika kau tidak bisa menciptakan imajinasi, paling tidak jangan membunuhnya.”

Molli ragu, apakah kalimat itu milik Simu sendiri atau dikutipnya dari orang lain lagi, tapi ia memilih tidak mau meributkannya. Belakangan Simu gemar memunguti kata-kata, baik yang ditemukannya dalam buku maupun dari mulut orang yang membuatnya terkesan. 

Kerumunan orang semakin padat. Simu dan Molli belum beranjak dari tempat mereka berdiri. Mereka seperti dua orang pengawas yang sedang menyamar. Atau dua orang asing yang kebingungan memilih jalan yang akan  mereka lewati. Anak-anak kelihatan yang paling bergembira di antara orang-orang yang pergi ke arena sirkus. Mereka berlarian di depan Simu dan Molli—membuat Simu terkenang masa kecilnya yang sepi.  

“Kau ragu?” tanya Molli.

Simu tidak menjawab. Namun, dari wajahnya, jelas ia ragu-ragu. Ia sudah bersama mimpi-mimpinya selama puluhan tahun. Paruh burung raksasa yang terbentuk dari awan hitam itu tiap malam mendatanginya dan tiap malam juga hampir menyambar tubuhnya pada detik sebelum ia tiba-tiba terbangun.  Ia sudah terbiasa dan tahu cara menghadapinya. Lalu kenapa ia masih ingin menemui peramal itu? 

“Kau?” tanya Simu. 

Molli menghela napas. Ia tidak pernah menunggu kedatangan peramal itu. Atau sebenarnya menunggu, tapi tidak seserius Simu. Namun, ketika peramal itu benar-benar datang ia merasa harus mengambil kesempatan itu untuk bertanya apakah ia akan menikah dengan lelaki tampan sebagaimana yang sering dikatakan ibunya (ia tahu ibunya menyembunyikan air mata saat mengatakannya) sebelum mati dalam sebuah perkelahian melawan seekor babi hutan di tepi ladang mereka.

Sebenarnya, siapa pun tahu sudah lama sekali ibunya ingin mati, tepatnya ketika api di dapurnya menjilat para-para di atas tungku batu, menjalar ke dinding kayu, dan menyambar seorang bayi yang ditinggalkannya dalam ayunan ketika ia pergi mengambil air di sumur.

Jika ia ingin bertanya kepada peramal itu, semata-mata demi ibunya yang sudah menanggung penderitaan sangat berat. Perempuan satu-satunya yang tetap sanggup berkata: Betapa cantik matamu, Molli.

Ia tidak tahu bagaimana ibunya tetap dapat melihat keindahan matanya—mata yang dalam tahun-tahun masa pubertasnya justru ingin sekali ia cungkil biar ia tak perlu melihat segala yang membuatnya merana, segala yang membuatnya menangis sampai lelah dalam kamar. Waktu itu ia masih gadis muda yang menganggap dunia terlalu kejam. Sementara ia terlalu lemah untuk melawan atau tetap berdiri tegak tanpa air mengalir di pipinya.

Setelah ibunya mati dan ia bertemu ibu baru, ibunya Simu, ia tak pernah lagi ingat tentang matanya, seperti juga ia sering lupa kalau ia benar-benar masih ada di dunia ini.

Namun, Simu sering berkata kepadanya, “Jika kau punya harapan, maka hiduplah demi harapan itu.” Ia tak punya harapan, tapi ia ingat ibunya memiliki itu, maka sesekali ia kembali memikirkan tentang sosok lelaki tampan, lelaki yang akan menjenguk ke dalam matanya dan menemukan kecantikan yang tersembunyi. Bersama lelaki itu ia akan memiliki banyak sekali anak. Salah seorang dari mereka akan ia namai Larka, nama ibunya. 

“Bagaimana?” tanya Simu.

Molli tersentak. Sama seperti yang dipikirkan Simu, mendadak Molli juga merasa takut akan kehilangan harapan yang disimpannya selama ini saat ia bertemu peramal. Bagaimana jika peramal itu tak melihat apa-apa dalam bola kristal yang ia putar untuknya; sebuah masa depan yang kosong? Mereka berbalik, pulang—tanpa ada yang berkata-kata.

***

“Kau telah menunggunya lama sekali.” Molli berdiri di pintu kamar Simu.    

Simu nyaris tak mendengar suara Molli. Pikirannya masih berada di arena sirkus. Ia bisa merasakan kesibukan  rombongan sirkus itu. Bau mereka yang pekat. Bercampur antara bau keringat akibat perjalanan jauh dan kotoran binatang. Seperti apakah bau peramal, itu? Apakah dia bau daun-daunan? Dadanya diserbu perasaan melimpah yang tak dikenalnya selama ini.  

***

Waktu kecil ia pernah mendengar cerita tentang pertunjukan sirkus dari ayahnya. Saat itu ayahnya baru kembali dari perjalanan jauh (ayahnya memang seorang petualang sejati) dan menyapanya lewat jendela. Lelaki yang bau angin musim hujan. Dan bau itu pula yang bisa ia ingat tentang ayahnya—tentu selain ceritanya tentang sirkus di sebuah tempat yang sepertinya sangat jauh. Mata ayahnya yang bening menatapnya dan ia berkata, “Kelak kau akan melihatnya.” 

Sebelum ia mengucapkan sesuatu pada ayahnya, ia mendengar suara ibunya dari dalam. “Kau lagi-lagi membuka jendela itu,” sungut ibunya. Setelah kepergian ayahnya yang lama, ibunya sudah memutuskan berhenti membuka jendela itu dan menikah lagi dengan lelaki dari sebuah kampung yang membawa seorang gadis kecil buruk rupa. 

“Simu, kau tidak dengar?” Suara ibunya mulai tinggi. Dan langit tiba-tiba jadi kelabu sore itu, membuat ayahnya berubah menjadi bayangan kecil di bawah jendela dan matanya lebih muram dari kulit kayu tua. Ia mengulurkan tangan dengan perasaan sedih pada lelaki itu dan ibunya berkata lagi, “Tutup jendelanya, Simu!”

Seketika ayahnya menjadi angin, menjadi udara, menjadi embun yang jatuh di kukunya. Lalu Kosong. Gelap. Sunyi.

“Simu!” teriak ibunya yang hilang kesabaran. 

Ia menutup jendela. Lalu ketika ia membukanya lagi dan lagi pada hari-hari lainnya, lelaki itu tak pernah datang kembali. Yang tertinggal hanya bau angin musim hujan di bawah jendela itu. Membeku dan menjadi kenangan. Sampai ibunya memalang jendela itu dengan kayu dan memaksanya berjanji tak akan membukanya lagi.

Maka sejak itu pula ia mulai bermimpi tentang awan hitam yang berubah menjadi paruh burung raksasa dan terus mengincarnya. Ia tidak pernah menceritakan mimpi-mimpinya kepada siapa pun. Bahkan kepada Molli. Adik tirinya itu hanya tahu kalau Simu menunggu seorang peramal dan ia tidak tahu apa alasannya. 

***

“Kita hanya punya kesempatan sekali ini,” kata Molli yang tahu persis kalau rombongan sirkus memerlukan waktu puluhan tahun lagi untuk singgah kembali di kota mereka atau bahkan tak kan pernah.

Dan rombongan sirkus memang segera berangkat jika mereka terus menunda menemui peramal itu dan mereka tidak mungkin mengejarnya. Puluhan tahun yang ditunggu Simu bisa sia-sia. Setiap malam sepanjang hidupnya ia bakal terus bermimpi awan hitam yang lalu berubah menjadi paruh burung raksasa dan mengejar-ngejarnya. Setiap malam pula ia nyaris kehabisan napas dan berteriak-teriak sampai membangunkan semua orang yang ada dalam rumah.

“Kita ke sana sekarang.” Simu mengambil sweter wol di lemarinya—sweter khusus untuk dipakai saat musim hujan. Cuaca sedang hangat di luar, tapi Simu merasa tubuhnya kedinginan.

***

Di pinggir lapangan, Simu dan Molli berdiri, mematung. Lapangan itu kosong dan  berantakan. Ada sepotong bulan di langit. Namun, cahaya yang lembut itu tak bisa menunjukkan banyak hal pada mereka apa yang sesungguhnya terjadi. Tenda peramal sudah tak ada. Menyisakan pancang-pancang bambu dan plastik yang terkulai ditiup angin. Simu memejamkan matanya, menghirup udara bau daun-daunan yang ditinggalkan peramal. Molli menghitung kuku jarinya yang ia sembunyikan di kantong baju sambil berbisik, “Simu…”

Ketika Simu membuka mata, ia menemukan segumpal awan yang dengan cepat berubah menjadi paruh burung raksasa menuju ke arahnya dan di waktu yang sama Molli maju dan mengorbankan dirinya tanpa mampu ia cegah. 

Simu segera terbangun ketika pintunya diketuk orang yang lantas bertanya, “Kau mimpi buruk lagi?” Simu tahu, itu suara Molli—suara yang terdengar makin tua sejak ia kehilangan harapan. (*)

GP, 2016

*Yetti A.KA - Buku kumpulan cerpen terbarunya Penjual Bunga Bersyal Merah (Diva Press, 2016). Tinggal di Padang, Sumatera Barat.