Keberagaman Apresiasi Dalam Pelangi Sastra

Wartawan : Dessy Wahyuni • Editor : Riyon • 2016-05-29 09:56

Perkembangan karya sastra di Indonesia belakangan ini sangat pesat, bahkan tidak terbendung. Penulis karya sastra bermunculan dari berbagai penjuru, baik yang tua (senior) maupun yang muda (pemula).

Novel-novel terbit. Antologi cerpen dan puisi menyemarak. Hal ini menggambarkan seakan sastra telah menjadi idola tersendiri di negeri ini. Tentu saja hal ini merupakan kabar baik bagi perkembangan kesastraan Indonesia. Akan tetapi, apakah masih kabar baik namanya jika perkembangan ini tidak diikuti oleh apresiasi dan/atau kritik sastra?

Persoalan apresiasi dan kritik sastra di Indonesia, selalu menjadi perbincangan dan perdebatan yang sepertinya tak pernah selesai. Membanjirnya karya sastra, baik yang terbit di media cetak setiap Sabtu atau Minggu, atau yang terbit dalam bentuk buku, tak dibarengi dengan lahirnya para penulis apresiasi atau kritik. Padahal, apreasiasi maupun kritik, bisa menjadi alat ukur kualitas karya yang  dihasilkan para sastrawan, meskipun sifatnya sangat relatif.

Prosais A.S. Laksana mengatakan, “Dengan kritikus yang sungkan bersuara karena berbagai sebab dan dengan nyaris tidak adanya media atau jurnal untuk kritik sastra yang sungguh-sungguh, dunia penulisan kita akhirnya hanya melahirkan raja-raja dan ratu-ratu kecil dengan para pemuja masing-masing, melahirkan pesohor media sosial yang lama-lama hanya memiliki kesanggupan menerima suara tunggal, ialah pujian: “Amazing”, atau “Dahsyaaaaat, Masbro!”, atau “Sebuah romansa nan indah”. Saya tidak begitu yakin sastra Indonesia bisa maju di tangan para raja dan ratu semacam itu.” (https://www.facebook.com/aslaksana?fref=ts, 2 Desember 2013).

Hal ini rupanya menggelisahkan Agus Sri Danardana. Di tengah minimnya karya apresiasi dan kritik tersebut, ia tetap berupaya serius berkutat di bidang ini. Buku Pelangi Sastra: Ulasan dan Model-model Apresiasi (Palagan Press, Pekanbaru, Januari 2013), adalah salah satu bukti bahwa apresiasi dan kritik sastra belum benar-benar mati.

Buku yang ditulis Agus Sri Danardana ini, paling tidak menjadi salah satu jawaban banyaknya premis yang mengatakan bahwa “kritikus telah mati”. Bertahun-tahun, dengan penuh ketekunan, lelaki kelahiran Sragen (Jawa Tengah), 23 Oktober 1959 ini menjadi pembaca sastra yang lumayan militan, dan kemudian menuangkan hasil bacaan itu dalam bentuk apresiasi/kritik yang dimuat di berbagai media di Indonesia.

Tercatat, mulai akhir 1980-an, sejak masuk menjadi pegawai Pusat Bahasa tahun 1988, tulisan-tulisan Danardana dimuat di beberapa koran ibukota seperti Pelita, Jayakarta, Terbit, Berita Buana, Suara Karya, Merdeka, dan banyak media lainnya. Selain itu, Danardana juga aktif sebagai pemakalah dalam berbagai seminar, workshop, pelatihan, dan lain sebagainya.

Tahun 2005 ketika diangkat menjadi Kepala Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Danardana menginisiasi lahirnya rubrik bahasa di Harian Lampung Post, yakni “Laras Bahasa”, dan rubrik “SMS” di Harian Radar Lampung. Dua rubrik bahasa dan sastra itu merupakan kerjasama Kantor Bahasa Lampung dengan kedua media tersebut. 

Sebelum menjadi Kepala Balai Bahasa Sumbatra Barat (2016), tahun 2009, Danardana diangkat menjadi Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau. Di sana, selain menginisiasi lahirnya Jurnal Madah milik Balai Bahasa Provinsi Riau, dia juga pemilik ide lahirnya rubrik “Alinea”, kolom bahasa dan sastra di Harian Riau Pos. Di harian itu juga, Danardana rajin menulis  artikel atau kolom tentang sastra atau kebahasaan.

Di luar itu, Danardana juga terus aktif dalam banyak kegiatan tentang sastra dan kebahasaan di luar tugasnya sebagai Kepala Balai Bahasa Riau. Sebelum buku ini terbit, sejak tahun 1994, lebih 25 buku dihasilkan Danardana, baik ditulis sendiri maupun dengan beberapa penulis, juga beberapa buku yang disuntingnya. Buku yang diterbitkannya sebelum buku ini adalah Anomali Bahasa (Palagan Press, 2012), yang berisi esai-esai tentang kebahasaan.

Dalam pengantarnya, Danardana menjelaskan, upaya yang dilakukannya untuk menerbitkan kumpulan esai sastranya itu adalah melihat kenyataan dunia kritik sastra (dalam hal ini apresiasi masih masuk dalam wilayah kritik sastra) kita yang masih gersang.

Artinya, dibandingkan dengan wilayah studi sastra lainnya seperti teori sastra dan sejarah sastra yang sudah banyak ditulis oleh banyak orang, kritik sastra cenderung menjadi wilayah yang sedikit disentuh, baik oleh para akademisi maupun penggiat kritik sastra. Hal ini tidak sebanding dengan membanjirnya karya sastra yang ternyata tak dibarengi dengan lahirnya banyak kritikus. 

Padahal apresiator, dalam hal ini, bertugas menilai karya yang bermunculan tersebut. Dalam menilai karya sastra (dengan menunjukkan kelebihan dan kelemahannya), apresiator harus objektif: menunjukkan kelebihan dan kelemahan sebuah karya secara berimbang. Artinya, kritik sastra bukanlah untuk menghakimi sebuah karya, bukan juga untuk mematikan kreativitas pengarang.

Dengan adanya penilaian ini, tentu saja para sastrawan akan lebih serius dalam mengasilkan karya, sehingga terlahirlah karya yang memiliki roh (dengan isi yang serius, latar yang jelas, penokohan yang kuat, plot yang dibangun secara matang, dan konflik yang telah diatur sedemikian rupa).

Apresiasi sastra juga mengasah kemampuan pembaca/penikmat karya dalam menganalisis, sehingga apresiator menjadi peka terhadap lingkungan. Dengan menganalisis karya sastra, apresiator akan menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam karya itu. Nilai-nilai inilah yang konon dapat membentuk watak dan kepribadian seseorang.

Dengan mengapresiasi karya sastra (yang menelaah makna dari tiap kata di dalam karya), seseorang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional, spiritual, dan sosial. Karya sastra memiliki pesona tersendiri bila dibaca dengan saksama. Karya sastra dapat membukakan mata pembaca untuk mengetahui realitas sosial, politik, dan budaya dalam bingkai moral dan estetika.

Para akademisi yang bergerak di bidang kebahasaan dan kesastraan hendaknya dapat menjembatani pengarang dan pembaca lewat kritik sastra atau sekadar apresiasi sastra (membaca, mendengar, dan/atau melihat [pementasan] karya sastra). Para sarjana bahasa dan sastra seharusnya telah memiliki bekal mengenai teori, sejarah, dan kritik sastra.

Akan tetapi, terdapat kegalauan para akademisi untuk terjun dalam dunia kritik sastra, entah karena daya intelektual dan komitmen di bidang profesinya tidak menjanjikan atau karena kegagapan mereka melihat jurang yang terbentang antara teori dan karya sastra yang tidak mampu mereka telaah. 

Kalangan akademisi yang diharapkan menjadi bagian penting dalam dunia apresiasi dan kritik sastra, belum memperlihatkan dirinya secara signifikan. Mereka menjadikan kajian terhadap karya sastra hanya sebagai bagian dari tugas-tugas rutin, belum menjadikannya sebagai “tugas utama” yang menegaskan bahwa masyarakat memerlukan apresiasi dan kritik sastra yang baik.

Para akademisi (dan peneliti) tersebut lebih tertarik mengumpulkan angka kredit yang berguna dalam peningkatan karier. Mereka lebih memilih memublikasikan tulisan (hasil penelitian atau penelaahan) di jurnal yang hanya beredar di kalangan terbatas, tentu saja demi meraih angka kredit tersebut. Intelektualitas mereka menjadi kurang terasah dalam berkreativitas. Saat menulis untuk media massa, tulisan mereka kaku dan kering.  

Kritik sastra (yang menjadi tugas masyarakat sastra) yang baik adalah kritik yang kreatif dan bernas, mampu menunjukkan kelebihan dan kelemahan secara objektif, bukan hanya menceritakan kembali isi dan tema karya sastra saja. Karena itu, kritik sastra yang baik bisa jadi tidak identik dengan kritik sastra akademik, tetapi lebih kepada kritik sastra kreatif.

Kritik sastra jenis ini yang masih jarang ditemukan yang ditulis oleh para akademisi. Namun, apa boleh buat, ketika kritikus sudah dieksekusi oleh rutinitas, penelitian, dan kemalasan intelektual, terpaksa karya sastra harus berjalan sendirian.  

Sebagai upaya apresiasi terhadap karya sastra, Danardana menjelaskan, ada upaya “perebutan” makna  karya sastra yang memang tidak akan bisa mencapai taraf objektif, tetapi berupaya untuk melakukan tafsir-tafsir  yang memang akan berbeda antara tafsir satu kritikus dengan kritikus lainnya terhadap sebuah karya.

Artinya, bahwa upaya Danar untuk melakukan tafsir terhadap beberapa karya yang ditulisnya dalam buku ini, hanyalah salah satu alternatif tafsir dan pemahaman, yang siapapun boleh menerima dan menolaknya, serta boleh memiliki tafsir lainnya. Tentu saja tidak tertutup kemungkinan seseorang akan melahirkan karya kritik lainnya terhadap karya yang sama.

Terdapat 32 esai sastra yang terangkum dalam buku setebal  272 halaman ini. Selain membahas tentang esai-esai umum yang berhubungan tentang apresiasi sastra seperti kondisi pengajaran sastra di sekolah terkini, mengapa apresiasi dan kritik sastra perkembangannya lamban di Indonesia, hingga bermacam-ragam sastra dari sastra bandingan hingga pentingnya sastra dalam kehidupan kita, Danardana banyak menulis apresiasi karya dengan berbagai pendekatan. Hampir semua genre sastra dibahasnya. Baik itu karya novel, cerita pendek, sajak, maupun naskah dan pementasan teater.

Pemahaman Danardana tentang ragam karya sastra dari berbagai genre itu menjelaskan bahwa lelaki kelahiran Sragen (Jawa Tengah) ini memang tunak dalam mempelajari sastra. Buku ini juga menggambarkan bahwa selain karya sastra Indonesia secara luas, terlihat Danardana juga mencoba mendalami karya-karya sastra lokal.

Danardana mencoba menulis dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami, mendalam, dan kritis dalam mengungkapkan permasalahannya. Dalam “Perahu Rapuh Idrus Tintin”, Danardana mencoba membandingkan sajak Idrus Tintin berjudul “Perahu” dan sajak Hamzah Fansuri “Syair Perahu”. Dia menyimpulkan ada keterpengaruhan “Perahu” oleh “Syair Perahu”, tetapi Danardana melihatnya sebagai sesuatu yang jamak. Dua sajak tersebut memiliki kekuatan masing-masing.

Dalam buku ini, Danardana memperlihatkan kepiawaiannya dalam membedah karya dengan kritis, sistematis, tetapi tak terkesan menggurui. Selain melihat ada sisi lemah dari sebuah karya, Danardana dalam buku ini juga menjelaskan sisi kelebihannya.

Ini dimungkinkan karena penulisnya mendalami teks karya yang dibahas, dengan pisau analisis yang tajam, dan kemampuan berbahasa yang baik membuat sang pengarang yang karangannya dibahas kemungkinan besar tak pernah membayangkan kalau Danardana menemukan banyak hal dari karya itu, termasuk tafsir yang berbeda. Mari, berapresiasi! (*)