Umpama

Wartawan : Sabila Anjangsana • Editor : Riyon • 2016-05-29 10:01

Umpama

umpama aku debar kamu jantung
kemudian jam habis waktu
dan angka hanya jelmaan daun-daun
derai airmata yang luruh dalam sajakku
masihkah matamu itu
telaga yang menyimpan batu-batu
atau masihkah ia jalan buntu
arah yang tak lagi bisa kutempuh
untuk sampai kepadamu

umpama aku cuaca dan kau angin
yang menggetarkan udara dingin
getarkan juga bawah sadarku
agar aku senantiasa mengingatmu
: sajak yang tak butuh kata dan umpama

Yogya, 2016

Semalam, dalam Dingin Hujan

bagaimana aku tuliskan kejujuran ini padamu
laras? sedang dingin kotamu mencegatku
bahkan untuk sekadar menyentuh gagang pintu galeri 
yang kita masuki

kau berkata “aku tak mengerti bahasan lukisan,
maukah kau menjelaskan?” 

di ingatanku 
tumbuh sayap-sayap ikarus 
dibanding lukisan aku lebih tak mengerti bahasa matamu
cahaya lampu yang menyigi seluruh bagian tak utuh dalam diriku
kau tentu bukan sebab kematian van gogh 
dan aku bukan pelukis yang fasih mengarsir alis 
terlebih kedalaman laut di matamu

kita menjadi serba canggung. dan aku bahkan gugup di sampingmu
apakah lukisan bisa abadi seperti kecemasan kita, kasih. ataukah ia 
akan tamat seperti waktu dan habis digerus cakar masa lalu? 

seorang perempuan latah menyentuhkan ujung kukunya pada garpu
yang menindih bocah bimbang penanggung sesal karena telah hidup
tapi tak ingin mati. aku mencegahnya. di luar hujan tiba-tiba menderas 
mengakrabkan gelap mataku pada kilau kerlingmu, pada renyah gelakmu

sesungguhnya ingin kucegah kau juga. seperti ibu pada kupingmu
tapi kalimatku selalu menyerupai batu yang karam padahal 
takut kedalaman, takut sendiri dan ditinggalkan

semalam, dalam dingin hujan
aku gagal menculik garis arah dari telapak tanganmu
hingga aku tersesat sedang kau terus menjauh

kata-kataku karam, seiring redup lampu-lampu 
yang menyusun jalan kotamu.

Yogya, 31 maret 2016

Narasi Pengelana Buah

di sepasang matamu
aku menemukan masa remajaku
masa yang riang menunggu di bawah pohon manga
meski tak ada yang jatuh seperti cinta 
yang kujatuhkan padamu

selalu kulemparkan kayu. berharap ada yang saling timpa
kemudian runtuh. di antara dahan dan ranggas daun kopi
sebab tak ada selain hujan yang retas dan burung-burung
gagal ditelurkan musim

begitulah kami menaruh cinta pada yang jauh
pada yang sesekali sempat luruh
—dibujuk kayu-kayu kering yang kami lemparkan dengan
mata tertutup. sambil merapal mantra para tetua 
yang tak sepenuhnya kami percaya
agar harapan yang kami hempaskan sampai 
kepadamu. sebab kau begitu jauh
bersitegang menetap di dekap dahan
meski usia selalu sia kau pertahankan

kau akan menua serupa buah manga yang jatuh terpaksa
tapi hantu hutan memberkatimu
sehabis diremasnya putingmu, dicabik-cabiknya isi perutmu
kau pun jatuh dan dicampakkan 
penunggu lupa waktu 

mereka sesungguhnya pengelana 
membawa parang di sarungnya
menyusuri hutan sepanjang siang
menunggumu di tepi sungai penuh lumut dan lintah
berharap ada yang hanyut dengan perut pecah

dan dada terbuka

Yogya, 31 maret 2016

Di Bandar Udara
: diajeng N.A

Airmata yang kau kucurkan
tempo hari. telah aku kembalikan padamu
hari ini. dengan wadah hatiku yang terluka

kenangan telah terlalu renta. sudah waktunya
merumahkan mereka. kini aku tak lagi takut
pada waktu. telah kutikam ia dengan segala
kepedihan di relungku

sudah tampak teramat belia wajahku kini
di hadap kasihmu

kita mesti saling berpaling
berkemas dan menata hidup masing-masing

tak ada lagi yang perlu disangsi disesali
selain pikiran: kenapa kita bersikeras 
ingin tetap di tempat ini. dan tangan
enggan melambai

Yogya, februari 2016

Pulang ke Pangkuan Kindang

Rindu ini adalah demam
setia berjaga di tubuh dan kepala
yang tak henti menyesali 
kenapa waktu demikian runcing
menusuk-menusuk kepala hingga pening

tak ada yang berubah di kampung ini, kata ibu
selain usia yang meyerupai kuku-kuku kucing
menggaruk-garuk uban di jakun ayah

sekali waktu aku ingin kembali duduk di pangkuan ibu
menatap ayah dari jauh. mencukur kumis dan jenggut 
demi umur yang sia-sia dipertaruhkannya

duh, ibu
apakah waktu semacam tik-tok jarum di dinding jam
hanya pada kematian ia rela melepaskan rotasinya
seperti juga kehilangan yang akrab pada kita
tapi luput kita degupkan
sebab jantung adalah penujum yang tahu
arah jalan menuju kematian
atau barangkali kematianlah penujum itu
ia tak pernah keliru menghitung sisa waktu
mengundang ajal yang tak pernah
benar-benar kita kenal

sajak ini, ibu
adalah seruan masa kecilku
suara-suara yang meminta diudarakan
seperti katamu, tak ada yang berubah dari tanah kelahiran
tak ada yang berubah dari keindahan-keindahan

sekali waktu aku ingin kembali duduk di pangkuan ibu
menatap ayah dari jauh. mencangkul
nama-nama sepanjang kebun dan rabun matanya

seperti juga desa
aku mencintai langit dan udara 
menerbangkan pesawat-pesawat
yang gemuruh seperti kerinduanku

Yogya, 2016
*Kindang, sebuah desa kecil di Sulawesi Selatan.

*Sabila Anjangsana - Lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan, 7 Maret 1996. Mahasiswa Komunikasi Konseling Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Bergiat di Forum Mahasiswa Pencinta Pena UMY. Sajaknya terbit di sejumlah media cetak.