Investasi Memberi

Wartawan : Ganefri - Rektor Universitas Negeri Padang • Editor : Riyon • 2017-06-05 11:44:45

Kita selama ini terbiasa memahami investasi dari perspektif ekonomi, yaitu bagaimana menanam berupa materi atau finansial untuk sebuah usaha jangka panjang yang di kemudian hari kita akan mendapatkan untung atau laba. 

Ternyata, di agama Islam investasi itu tidak harus berupa materi atau uang, melainkan segala hal yang bisa diberikan secara ikhlas kepada sesama, dan keuntungannya bisa dirasakan kedua belah pihak, baik yang memberi maupun yang diberi. Yang pasti, investasi memberi di dalam Islam tentunya dalam koridor kemaslahatan dan kemanfaatan.

Wujud pemberian atau sedekah itu tidak dipaksakan kadarnya. Dalam Islam, bahkan memberi senyuman juga merupakan sedekah. Dengan tersenyum, ada energi positif dan jalinan silaturahim yang dilontarkan. Perasaan nyaman adalah modal utama interaksi sosial. Interaksi sosial yang konstruktif akan memberi ruang tercapainya kualitas kehidupan masyarakat.

Sudah banyak contoh, betapa dengan memberi, justru kita tidak akan berkurang. Memberi, sebaliknya adalah investasi jangka panjang, memberi rasa nyaman dan tentu saja pahala yang tidak disangka-sangka dari sang Khalik. Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW sudah menggaransi posisi para pemberi lebih baik dibanding yang diberi.

“Tangan yang di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah. Tangan di atas adalah tangan pemberi sementara tangan yang di bawah adalah tangan peminta-minta,” demikian hadis Nabi Muhammad SAW yang dirawikan oleh HR Muslim. 

Dari perspektif bio-kimia, sudah banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa kebiasaan memberi membuat secara kimiawi tubuh akan melepaskan dan meningkatkan kadar hormon Endorfin dan Serotonin dalam tubuh. 

Terutama Endorfin, hormon yang juga disebut sebagai hormon kebahagiaan ini, dipastikan berkhasiat menangkal stres dan depresi. Hormon ini juga disebut sebagai hormon semangat hidup, hormon kasih sayang. Hormon kebahagiaan merupakan obat penenang alamiah yang dapat mengendalikan stres dengan memunculkan perasaan senang dan nyaman. 

Sekresi hormon ini akan meningkat saat seseorang berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Berbagi kebahagiaan berarti adalah memberi. Siapa yang bisa membantah dengan saling berbagi cerita, kita akan merasa lebih nyaman dan tenang, seberat apa pun masalah yang dibagi. Rasa nyaman dan tenang tentu akan semakin meningkat jika yang dibagi tidak sekadar cerita, namun juga pertolongan lain yang lebih konkret sifatnya. 

Investasi memberi, membuat secara mental manusia memiliki kepedulian dan rasa pengertian dengan sesama. Merasakan penderitaan orang lain, berempati dan melakukan sesuatu untuk meringankan beban orang lain, merupakan sebuah sikap paling mulia di sisi sang pencipta. Jika seluruh umur kita hingga akhir hayat nanti didominasi oleh sikap dan perlakuan memberi, maka itu berarti hidup kita penuh manfaat bagi lingkungan. 

Dalam hadis Nabi Muhammad SAW dikatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Sementara di dalam Al Quran, Surat Al Isra ayat ketujuh, dikatakan ‘Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri.’

Pernyataan tegas yang bersumber dari hadis dan Al Quran di atas memberi gambaran jelas bahwa memberi adalah investasi yang sangat menguntungkan bagi siapa pun. Memberi bukan berarti mengurangi apa pun yang kita miliki. Sebaliknya, memberi adalah meningkatkan kualitas diri, menambah kapasitas harga diri seseorang. Dengan memberi, berarti ikut serta secara aktif meningkatkan kualitas kehidupan di lingkungan terdekat secara khusus, dan kehidupan masyarakat secara umum.

Tentunya, memberi yang terbaik adalah memberi dengan penuh keikhlasan, tanpa ada pikiran atau niat untuk mendapatkan ganjaran dari manusia, apakah itu berupa materi atau sekadar kekaguman dan ketakjuban. Jika itu yang terjadi, maka jatuhnya menjadi riya. Memberi namun sebenarnya riya, adalah perbuatan yang justru tidak membawa manfaat apa-apa baik untuk yang diberi maupun yang memberi.

Mengenai riya, hadis Rasulullah juga pernah memberi tips agar terhindar dari perbuatan tidak terpuji tersebut. ‘Jika engkau memberi dengan tangan kanan, maka janganlah tangan kiri menjadi tahu.’ Demikian benar perumpamaannya, bagaimana agar perbuatan memberi tidak jatuh ke dalam sikap riya, bahkan (bagian dari) diri sendiri pun jangan seolah-olah tahu, apalagi orang lain yang melihat perbuatan memberi itu, jangan sampai mereka sengaja diberi tahu sebelum perbuatan kita itu jelas dilakukan ikhlas.

Demikianlah, investasi memberi sudah sejak lama sangat dianjurkan dalam agama kita. Di bulan penuh rahmat dan berkah ini alangkah baiknya jika kita manfaatkan untuk memperkokoh mental memberi kita pada sesama. Mulailah dengan mencontohkannya terlebih dahulu dari lingkungan terkecil, keluarga. Ini bisa menjadi salah satu metode latihan dan pendidikan mental untuk anak-anak kita. 

Terlebih, sudah dijanjikan pula oleh Allah SWT bahwa setiap amalan sebiji zarah pun selalu di dibalas berlipat ganda dengan pahala melimpah dan kadarnya semakin berlipat di bulan Ramadhan. Mari berinvestasi dengan memberi. (*)