Ramadhan dan Penguatan Wisata Halal

Wartawan : Sari Lenggogeni - Direktur Pusat Studi Pariwisata Unand/Staf Ahli KEIN RI • Editor : Riyon • 2017-06-07 11:46:20

Untuk Sumbar, meskipun Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Wisata Halal sedang dalam proses penyelesaian, di sisi lain justru masih banyak kalangan yang berdebat tentang konsep wisata halal. 

Penulis pernah membahas pada Teras Utama Padang Ekspres sebelumnya (Wisata Halal: Pandangan Global-Lokal, 2016), tentang mispersepsi wisata halal, wisata Islamic/ syariah atau pilgrim. 

Sedikit mengulas kembali, wisata pilgrimage adalah wisata yang bertujuan untuk mendekatkan diri pada sang Pencipta (Faharani, 2015), sementara wisata syariah adalah interpretasi baru wisata pilgrim yang menggabungkan kategori wisata religi dan leisure (Faharani, 2015) dan wisata halal lebih pada penguatan unsur pakaian, perilaku, aturan dan diet, infrastruktur pendukung wisatawan muslim berwisata sesuai dengan ajaran Islam (WTM, 2015).

Pertanyaanya, apakah kita akan mengacu pada jenis wisata religi Aceh (wisata syariah), atau Lombok (wisata halal)? Kerancuan terkait apakah memilih tipikal wisata halal atau syariah ini, kemudian menjadi pertanyaan, konsep manakah yang akan digunakan di Sumbar? Bersama elemen MUI, LPPOM, LKAAM dan dua akademisi, di mana penulis bertindak sebagai koordinator, saat ini tengah mendesain naskah akademis rancangan peraturan daerah wisata halal untuk Sumbar. 

Konsep ini menjadi menarik mengingat dalam pertemuan awal, tim cukup alot berdebat, terutama dalam determinasi tipikal apa yang akan diadopsi Sumbar. Pertimbangannya cukup jelas, konsep apapun yang dihasilkan sebaiknya dapat membantu mempercepat pertumbuhan jumlah kunjungan inbound turis yang saat ini berada pada titik 49.686 wisman dan 6.973.678 wisnus (BPS & Statistik Kepariwisataan Sumbar, 2017).

Wisata adalah diferensiasi! Diperlukan pembeda yang unik dengan membawa kearifan lokal tanpa meninggalkan unsur utama wisata halal dan syariah. Konsep ini harus menjadi pembeda dari konsep wisata halal yang digunakan NTB dan Aceh. 

Tim akhirnya sepakat mengusulkan untuk mengelaborasi tiga konsep: wisata halal, wisata syariah dan wisata budaya sebagai suatu konsep terintegrasi yang akan diadopsi Sumbar dengan brandingmoeslem-friendly destination. 

Secara tidak langsung, ditujukan untuk  mendukung program wisata halal di Kementerian Pariwisata guna menstimulasi jumlah kunjungan wisatawan muslim saat ini berada pada titik 1,8 juta. Artinya, jenis wisata ini berupaya agar tidak memberikan aspek kontraproduktif pada pasar lainnya, namun justru memperkuat nilai USP/daya tarik produk wisata halal di Sumbar,  baik pasar wisatawan muslim maupun non muslim.

Konkretnya seperti apa? Ada elaborasi kriteria wisata halal kementerian, DSN-MUI No 104/DSN-MUI/X/2016, dan indikator kearifan lokal diimplementasikan pada eman elemen: destinasi, industri pariwisata, pemasaran, ekonomi kreatif, kelembagaan dan  investasi. 

Tentu, aspek syariah dengan kriteria DSN-MUI dasar indikator utama dari keseluruhan parameter; misalnya dari dua destinasi yang diusulkan kabupaten/kota, harus terhindar dari kemusyrikan dan khurafat, maksiat, zina, pornografi, pornoaksi, minuman keras dan judi.

Ramadhan sebagai Produk Wisata Halal

Dari keenam elemen yang diusulkan pada ranperda wisata halal, mari kita fokus pada peluang yang dapat dimanfaatkan pada momentum Ramadhan dan Lebaran. Pemerintah tentu harus jeli mencari key driver untuk memanfaatkan momen ini, siapa yang kita bidik, produk, keunikan nilai produk, dan bagaimana strategi eksekusinya. 

Secara bisnis, Ramadhan adalah season di mana industri pariwisata (terutama penerbangan dan akomodasi) berada pada kondisi cukup sulit mendapatkan pasar, terutama awal bulan.

Kemudian, berbicara segmentasi pasar wisatawan muslim internasional, probability mendapatkan pasar ini sebenarnya ada, namun belum bisa digeneralisir untuk semua destinasi tujuan wisata. Cressent rating mengungkapkan bahwa potensi wisata halal Ramadhan dapat membidik pada wisatawan muslim yang melakukan perjalanan dengan dorongan untuk mendapatkan kenyamanan melakukan ibadah puasa pada destinasi tujuan wisata halal.

Misalnya, pasar wisatawan muslim dengan negara asal Eropa yang memiliki durasi puasa lebih lama (lebih dari 17 jam), diperkuat dengan cuaca yang ekstrem pada musim panas dan ingin menikmati kekhasan budaya Ramadhan yang berbeda pada masing-masing negara tujuan wisata. Dalam hal ini, Malaysia menempati peringkat terfavorit.

Peluang ini bisa saja terjadi di Indonesia, namun besar kemungkinan destinasi yang dikunjungi adalah destinasi bersifat mass tourism dengan penunjang infrastruktur family tourism lengkap, seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya. Lantas bagaimana Sumbar? Siapa yang sebaiknya dibidik, produk dan bagaimana strateginya?

Dalam merancang strategi, tentu kita harus membaca tren tahun sebelumnya dan fakta lapangan. Data menjelaskan bahwa kunjungan tertinggi wisatawan muslim ke Sumbar antara akhir bulan Ramadhan dan awal Syawal didominasi wisatawan muslim nusantara dengan tujuan family gathering dan kekerabatan. 

Hasil penelitian Lenggogeni & Arrahma pada Ramadhan-Syawal tahun lalu, mengungkapkan bahwa jenis wisatawan nusantara,family tourism, sebagian dari wilayah wisnus Sumatera (Medan, Pekanbaru, Bengkulu) dan Jakarta (pada umumnya perantau), dengan menggunakan kendaraan pribadi, family-group, repeat visitor.

Sesuai prediksi sebelumnya, sebanyak 98% responden melakukan pergerakan wisata tanpa tour travel atau disebut independent traveller. Menarik mencermati psikografisnya, segmentasi ini cenderung berasal dari kelompok novelty seeking, exploratorer, cenderung ingin mencari destinasi destinasi dan atraksi baru ketika sampai di Sumbar.

Namun, sayang fakta lapangan menjelaskan bahwa wisatawan memiliki keterbatasan akses informasi terhadap destinasi mana yang akan dikunjungi di Sumbar. Hasil penelitian mengungkapkan top three kabupaten/kota yang dikunjungi selama periode ini adalah Bukittinggi, Padang, Pesisir Selatan. Barangkali pemerintah kabupaten/kota lain telah memiliki flyer/brosur informasi wisata atau informasi digital, namun mungkin belum terdistribusi langsung pada wisatawan baik pada saat pre-visit maupun on-site di Sumbar.

Tidak heran akhirnya, dua titik macet yang sering terjadi adalah Bukittinggi, Padang dan Pesisir Selatan (untuk 2 tahun terakhir). Kemacetan yang diduga disebabkan distribusi titik penyebaran wisatawan tidak seimbang pada awal Syawal/Lebaran yang juga salah satu penyebabnya, tidak memiliki informasi yang cukup akan daya tarik pada destinasi di kabupaten/kota lainnya.

Tahun lalu, akhirnya penulis dengan rekan duta wisata kabupaten/kota Sumbar, Pemprov dan dukungan Kemenpar membuat Tourist Information Centre di Bandara International Minangkabau untuk mensosialisasikan destinasi pada kabupaten/kota lain dan informasi jalan alternatif menghindari macet. Respons visitor sesuai prediksi: banyak yang tidak mengetahui informasi destinasi menarik lainnya di kabupaten/kota lain di Sumbar.

Pada follow up hasil FGD dan Workshop percepatan pariwisata Sumbar Februari kemarin, 19 kabupaten/kota di Sumbar telah mengusulkan dua fokus destinasi unggulan pada masing-masing kabupaten/kota. Dengan empat positioning utama yang pernah saya usulkan, Sumbar memiliki coastal–marine tourism, geotourism, ancient Minangkabau dan heritage, serta whitesand untuk 19 kabupaten/kota, seharusnya setiap wisatawan layak mendapat pilihan visitor experiences (pengalaman wisatawan) dengan atmosfir berbeda pada setiap kabupaten/kota.

Tentu, tanpa manajemen destinasi dan atraksi, mustahil mengharapkan wisatawan puas, datang kembali dan memberikan rekomendasi pada yang lain. Untuk itu, awal Ramadhan perlu segera persiapan perencanaan manajemen wisata Lebaran ini. Tidak perlu perbaikan fundamental, namun semua bisa dilakukan dengan adanya pengelola destinasi yang bertanggung jawab pada manajemen destinasi tersebut, termasuk, kebersihan, keamanan, kenyamanan dan dampak ekonomi melalui ekraf. Nah, untuk Ramadhan dan awal Syawal, manajemen destinasi apa yang dapat dilakukan?

Penguatan Atmosfir Ramadhan dan Lebaran

Visitor experience adalah soal lima sensory pemasaran; sight, hearing, smell, taste dan touch. Ramadhan memberikan atmosfir budaya khas, dengan sensasi keterlibatan emosi kekeluargaan, kekerabatan dan memori masa lalu/kecil (past visit experience). Diperlukan penguatan seluruh unsur ini  misalnya untuk unsur ‘taste’, dengan menawarkan halal gastrotourism (kuliner halal).

Manfaatkan juga produk ekonomi kreatif pada masing-masing kabupaten/kota melalui atraksi-atraksi Lebaran, terutama Sumbar yang berpotensi untuk dijadikan sebagai Muslim Fashion Industry Centre demi memaksimalkan dampak ekonomi wisata Lebaran. Atraksi seperti muslim fashion carnival atau exhibition, atau atraksi melibatkan adrenalin wisatawan, seperti boat wisata Lebaran, sightseeing Lebaran atau permainan tradisional anak, didukung instrument performance musik, warna dan unsur penunjang yang memperkuat wisata Lebaran di sekitar destinasi akan memaksimalkan pengalaman wisatawan saat berlebaran. Tentu, pengelola destinasi harus bekerja keras memaksimalkan tanggung jawab terhadap keamanan, kebersihan, kenyamanan pengunjung selama didestinasi.

Memorable Tourism Experience dan Repeat Visit

Tentu, target akhir manajemen pra Lebaran adalah selain kepuasan pengalaman wisatawan, berdampak pada kunjungan berulang, dan ekspansi pasar baru dari rekomendasi wisatawan. Selain itu, manajemen ini berguna untuk mengantisipasi faktor yang mengurangi memorable experience wisatawan (mostly pemudik), seperti macet, kotor, crowded, bottleneck saat mendapatkan service pada industri wisata.

Lenggogeni, Slaugther dan Ritchie (2015) menjelaskan bahwa pengalaman kunjungan masa lalu (past visit experience) wisatawan sangat  menentukan sikap wisatawan untuk kembali lagi, atau memilih alternatif destinasi wisata lain atau justru memberikan rekomendasi buruk kepada calon wisatawan yang akan berkunjung.  

Untuk itu, manajemen destinasi pra Lebaran harus segera direncanakan dari awal, tidak dibiarkan begitu saja. Besar harapan penulis, Sumbar mampu memanfaatkan dan mempersiapkan traffic moment Lebaran sedini mungkin untuk pariwisata Sumbar. (*)