Jangan Hanya Tinggal Nama

Wartawan : Kasmuri - Rektor IAIN Batusangkar • Editor : Riyon • 2017-06-19 11:45:06

Dunia Islam yang pernah suatu ketika dulu mengalami masa kejayaan, kini hanya tinggal menjadi catatan tinta emas bagi penulis sejarah. Keterpurukan dan ketinggalan dunia Islam dalam berbagai aspek tergambar dari ungkapan salah seorang tokoh pembaharuan dalam Islam Syeikh Muhammad Abduh ketika beliau pertama kali menjejakkan kakinya di Perancis. 

Ketika melihat Perancis dengan berbagai macam kemajuan dan keteraturannya, beliau tersentak seakan baru bangun dari tidur yang ditemani oleh mimpi buruk, maka secara spontan keluar ungkapan dari mulut beliau; “Saya melihat Islam di Perancis, akan tetapi tidak ada Muslim”. 

Tidak lama kemudian, beliau kembali ke Mesir, tempat di mana beliau berkiprah. Sesampainya di Mesir, karena masih dipengaruhi oleh suasana kekaguman terhadap Perancis, maka secara spontan pula terlontar lagi ungkapan dari mulutnya; “Saya melihat muslim di Mesir, akan tetapi tidak ada Islam”. 

Andaikata pada waktu itu beliau menyempatkan diri datang ke Indonesia, yang konon mayoritas penduduknya beragama Islam, sudah pasti ungkapan yang sama ketika beliau pulang ke Mesir, sangat cocok dan sesuai pula ditujukan untuk umat Islam Indonesia;  “Saya melihat muslim di Indonesia, akan tetapi tidak ada Islam”.

Ternyata Islam baru berada pada dataran formalitas, ataupun barang kali khusus untuk Indonesia. Di sinilah letak kelemahannya Islam yang datang ke nusantara dahulunya melalui proses damai, adaptasi dan asimilasi, sehingga nilai-nilai buruk dari budaya lama, masih belum bisa tercabut sampai ke akar-akarnya. 

Singapura umpamanya, yang mayoritas penduduknya beragama Konghucu, ternyata ruh Islam ada di sana. Sebagai contoh, denda sebanyak lima ratus dolar Singapura bagi yang membuang sampah dan meludah sembarangan masih tetap berlaku di sana. Ternyata, hadis Rasulullah yang selalu menjadi hiasan bibir bagi umat Islam bahwa kebersihan itu adalah sebagian dari iman, yang mengamalkannya bukan umat Islam di negara kita ini, akan tetapi umat Konghucu di Singapura. 

Belum lagi contoh yang lainnya, termasuk masalah korupsi yang boleh dikatakan hampir tidak kita dengar di negara yang berlambang singa tersebut, berbanding dengan negara kita yang mayoritas penduduk dan pemimpinnya  beragama Islam.

Ada pendapat yang mengatakan; “Bahwa korupsi itu adalah merupakan budaya bangsa Indonesia”. Kalau pendapat ini memang benar adanya, yang dimaksud dengan budaya, berarti telah mengkristalisasi terhadap kepribadian bangsa. Yang sangat mengkhawatirkan kalau-kalau bangsa ini sedang mengarah menuju kepada sebuah perumpamaan. 

Konon diceritakan, ada sebuah perkampungan yang letaknya di kaki Gunung Merapi. Karena masyarakat kampung tersebut mengkonsumsi air kekurangan yudium, sehingga pada umumnya masyarakatnya terkena penyakit gondok. Akhirnya, penyakit gondok merupakan hal yang biasa dan dianggap menjadi hiasan leher bagi seseorang. 

Ketika salah seorang pemuda dari kampung tersebut melanjutkan pendidikannya keluar daerah dan sempat berkenalan dengan seorang gadis dari daerah lain, serta berencana akan melangsungkan pernikahan, sungguh sangat ironis, pernikahan terpaksa dibatalkan, karena dari pihak laki-laki tidak melihat tanda-tanda adanya gondok di leher calon istri.

Kisah ini memberikan suatu gambaran, bahwa keburukan yang dilakukan jika sifatnya sudah menyeluruh dan terjadi berulang-ulang kali, hingga akhirnya dianggap sebagai suatu yang lumrah, maka tidak mustahil, pandangan menjadi berubah, atau dengan kata lain, bila kezaliman terus menerus dilakukan, maka lama kelamaan akan menjadi sebuah tindakan yang dibenarkan.

Sudah begitu kronisnya penyakit bangsa ini. Kalau sudah demikian halnya, apakah masih layak label Islam diberikan kepadanya? karena apa yang dilakukannya sudah sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Yang sangat mengkhawatirkan lagi kalau-kalau nilai luhur dari ajaran Islam ternodai oleh perangai umatnya, khususnya lagi umat Islam Indonesia. 

Sudah cukuplah selama ini segala macam tuduhan yang sifatnya negatif diarahkan kepada Islam. Islam sebagai agama teroris, agama fondamentalis, agama kelas bawah dan sebagainya. Selanjutnya jika orang mengarahkan pula kepada umat Islam di Indonesia, maka semakin lengkaplah lagi tuduhan negatif brikutnya; “Islam agama perampok, alias maling, alias korupsi”, sebab dalam kenyataan yang kita lihat sangat jarang orang melihat suatu agama dari ajarannya, yang pertama kali dilihat adalah umatnya.

Mengapa harus jadi begini? Apakah perangai buruk seperti korupsi yang sudah membudaya ini tidak bisa dikikis oleh nilai-nilai kebudayaan lain seperti agama? Jika ditinjau dari sudut pendidikan, berarti ada yang tidak beres terhadap pengajaran agama yang diberikan selama ini, sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad Qutb; “Pengajaran agama telah mengecut kepada kadar helaian-helaian teks yang kecil untuk dihadapi dan diuji pada setiap ujian semester, yang lebih ditekankan adalah aspek kognitifnya, kepada murid-murid dikehendaki menghapal dan mengemukakan hasil hapalannya itu pada waktu ujian dilaksanakan. Sementara aspek afektif, amaliah dan penghayatan terbiar dan tidak dititikberatkan. Akibatnya pendidikan agama yang tersepit hanya berfungsi memenuhi ruangan yang sempit.”

Penyakit  kronis ini sudah tentu tidak bisa dibiarkan dan hanya ditinjau dari satu aspek, diperlukan penanganan secara integral. Di samping itu, keikhlasan kita selaku umat beragama, khususnya umat Islam sangat dituntut, karena tidak mustahil, jika kita sama-sama kita bertekad untuk memperbaikinya, umat Islam di Indonesia akan menjadi umat yang terbaik  dan menjadi contoh bagi umat di seluruh dunia. Akan tetapi jika tidak segera kita sadari, tidak musahil, Islam hanya tinggal nama. 

Sebagai contoh, sebagaimana yang terjadi di Tunisia. Sudah lebih dari dua tahun Mohamad Bouazizi menjadi pejuang bagi bangsa tersebut. Pada tanggal 17 Desember 2010, selesai mengerjakan Shalat Jumat, pemuda 26 tahun ini membakar diri di depan kantor pemerintah kota kelahirannya itu. Aksi nekatnya ini yang tidak ditemukan dalam akar budaya Arab ia lakukan karena frustrasi. Selepas lulus dari sebuah perguruan tinggi, pekerjaan tidak segera ia dapatkan, seperti halnya jutaan pemuda lainnya di negera kita pada saat ini.

Untuk menyambung hidup, tanpa rasa malu, walaupun dia seorang sarjana, Bouazizi mendorong gerobak berjualan sayur dan buah-buahan. Akan tetapi sungguh malang nasibnya, polisi merampas gerobaknya. Ia dilarang berjualan di pinggir jalan karena dianggap mengganggu ketertiban dan keindahan kota. Puncak dari frustrasinya, ia pun mengambil keputusan untuk membakar diri. Nyawanya tidak bisa diselamatkan.

Tersentak, seluruh Tunisia pun bergolak. Nasib nahas Bouazizi seolah-olah mewakili aspirasi sebagian besar rakyat Tunisia yang masih banyak hidup dalam kemiskinan, kenaikan harga pangan, pengangguran dalam jumlah besar, korupsi yang merajalela. Revolusi rakyat yang dipicu aksi bakar diri ini lalu menginspirasi rakyat di sejumlah negara Arab. 

Apa yang terjadi di Tunisia ini, mudah-mudahan tidak terjadi di negara kita, sebab negara kita ini tidak hanya membutuhkan pertumbuhan ekonomi, akan tetapi yang tidak kalah pentingnya dari itu adalah pemerataan ekonomi. Wallahu’alam. (*)