Padang Bypass, The Killing Fields

Wartawan : Ivan Adilla - Warga kota Pengguna Padang Bypass, bekerja di Universitas Andalas • Editor : Riyon • 2017-06-20 11:22:08

Pelebaran jalan Padang Bypass, yang membujur dari Bandara Internasional Minangkabau di utara menuju pelabuhan Teluk Bayur di Selatan, masih juga belum selesai. Bukan disebabkan kelalaian kontraktor, tapi karena berlarutnya penyelesaian masalah lahan.

Bengkalai ini mengakibatkan pengguna jalan utama ini harus terlibat kemacetan di persimpangan yang tanpa lampu lalu lintas. Juga siap berzigzag untuk berpindah jalur dengan luas jalan yang berbeda. Semua itu berlangsung di tengah pengguna jalan yang tak sudi bertoleransi. 

Siapa pun yang pernah berpergian ke kota lain akan dengan mudah menilai betapa runyam dan kacau balaunya situasi lalu lintas di kota ini. Sebab utama kerunyaman bukan keterbatasan infrastruktur, tapi sikap pemakai jalan yang tak tertib. Perhatikanlah bagaimana pemakai jalan bersikap. Berhenti dekat persimpangan jalan dengan tanda larangan berhenti dianggap biasa. Menerobos lampu merah adalah hal lumrah. Menerabas marka jalan menjadi pemandangan biasa. Berbelok tanpa menghidup lampu sign tak masalah. Memasuki jalan utama tanpa lihat kiri-kanan memperhatikan kendaraan lain, dipandang tak perlu. Apalagi berkendara sambil menelepon. 

Alih-alih dipandang sebagai hal membahayakan, perilaku itu justru dipandang sebagai pertanda Anda orang sibuk yang punya urusan penting sehingga dimaklumi melakukan beberapa pekerjaan sekaligus. Apakah perilaku itu bisa membahayakan Anda dan orang lain, itu urusan belakangan. Bahkan melawan arus tampaknya dianggap tanda keberanian, hanya para pemberani yang mampu melakukannya. Bisa dipahami kenapa orang melawan arus lalu lintas dengan sikap gagah berani bak pahlawan, tanpa rasa bersalah! 

Konon kata para ahli sosial dan kebudayaan, perilaku berlalu lintas adalah cermin paling jelas dari perilaku masyarakat di sebuah wilayah. Jika kita percaya pada rumusan itu, bagaimana sebaiknya merumuskan perilaku berlalu lintas pemakai jalan di kota ini? Apakah kesemrawutan lalu lintas ini menunjukkan kita masyarakat yang tak tahu aturan, tanpa kepatuhan, atau tak beradab? Seperti Anda, pembaca, saya pun tak sudi dikatakan manusia biadab. Supaya diri sendiri maupun Anda tak tersinggung, baiklah kita sepakati saja keadaan ini sebagai situasi yang kurang tertib. Tak apalah sekali-sekali bersikap eufimistis untuk menghibur diri. 

Akan tetapi, tentu saja masalah tak selesai dengan menghibur diri sendiri. Saya malah kini ketakutan, dihantui gambaran mengerikan. Begini. Dengan mengamati perilaku berlalu lintas masyarakat saat ini, saya cemas Padang Bypass akan menjadi ladang pembantaian, The Killing Fields. Ya, layaknya medan perang Vietnam yang menjadi arena pembantaian prajurit Amerika dalam film produksi Hollywood itu. Di jalan mulus dan luas itu pengendara akan memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi.

Memacu kendaraan sambil menelepon dalam kecepatan 80 km/jam, apakah yang bisa dilakukan pengemudi jika tiba-tiba saja motor di depannya –pengendaranya tanpa helm dan tanpa menghidupkan lampu sign— berbelok begitu saja? Besar kemungkinan terjadi tabrakan beruntun dengan korban luka serius. Berapa banyak korban seperti itu akan bergelimpangan jika budaya berlalu lintas ini tak menjadi perhatian? 

Di sebuah koran diberitakan masyarakat diminta berhati-hati di jalan Padang Bypass karena sebagian besar persimpangan tanpa traffic light. Tanpa peringatan itu pun, pemakai jalan utama sudah mafhum kalau Padang Bypass sejak lama tanpa lampu lalu lintas. Kalau pun ada, banyak yang tak berfungsi. Kalau pun berfungsi, tetap tak dipatuhi. Sebab itu imbauan saja jelas tak cukup. 

Persoalan utamanya adalah pemahaman kita terhadap kendaraan. Sebagai hasil kebudayaan, kendaraan adalah alat transportasi yang membantu manusia untuk berpindah. Dari rumah ke kantor, dari sekolah ke tempat kerja dan seterusnya. Tapi banyak di antara kita yang memaknai kendaraan sebagai simbol status sosial.

Pemaknaan simbolik seperti itu malah membuat kita lupa pada fungsi utama kendaraan. Dari segi fungsi, tak bisa dipahami kenapa ibu-ibu rumah tangga mengantarkan anaknya dengan mobil sport ke sekolah. Padahal perjalanan tak begitu jauh dan seluruh jalannya beraspal. Perilaku itu hanya bisa dipahami dengan mengamati makna kendaraan sebagai simbol status sosial. Dengan mengendarai mobil sport berharga mahal, pengendara ingin menunjukkan bahwa ia orang kaya dari status sosial yang lebih tinggi. 

Celakanya, karena merasa lebih kaya dan punya status sosial, orang dengan mudah jadi sombong. Semakin bagus kendaraan, semakin orang ingin diberi keistimewaan. Tak heran jika beberapa kendaraan jenis sport merasa lebih hebat daripada kendaraan jenis city car atau family car. Jadinya ada alasan untuk mendahului melewati marka jalan. Kadang menerobos lampu merah. Pengendara berani melakukan itu karena tak ada yang bakal menangkap orang kaya yang punya status sosial tinggi. 

Pandangan simbolik itu jelas telah ketinggalan zaman. Ia hanya lanjutan saja dari cara pandangan mitologis masa lalu. Sebagaimana dulu orang memandang tato sebagai simbol kehebatan, kemudian kriminal, dan kini jadi gaya. Simbol seperti itu hanya pencitraan bohong terhadap kenyataan. Toh, mobil bisa dikredit atau disewa. Tak harus dimiliki penuh. Lagi pula, apa yang perlu dibanggakan kalau yang digunakan itu produk bangsa lain! Lain cerita jika Anda mengendarai kendaraan yang dibuat perusahaaan atau tangan sendiri. Atau setidaknya Anda rancang sendiri. Nah, kalau itu bolehlah kita angkat topi. 

Pemerintah kota selayaknya memiliki program terencana dan strategi yang baik untuk menertibkan perilaku berlalu lintas warga. Tentu saja mengubah perilaku tak bisa dalam waktu pendek. Apalagi cuma dengan razia dan tilang yang sporadis. Banyak strategi lebih simpatik bisa dirancang dengan melibatkan pelajar, kelompok kesenian, lembaga pendidikan, majelis taklim, dan lainnya. Ya, soal lalu lintas bukan hanya urusan polisi lalu lintas dan dishub, tapi kepentingan seluruh warga dan pemakai jalan. Pendek kata, ini menyangkut kepentingan, keselamatan, bahkan nyawa kita semua. Dengan cara itu mungkin kita bisa mengubah perilaku pemakai jalan menjadi lebih tertib dan mau bertoleransi. Pendeknya, lebih beradab! 

Hanya orang beradab yang akan menikmati Padang Bypass sebagai infrastruktur nyaman yang menguntungkan. Bukan ladang pembantaian yang mengerikan. Atau, mengutip sebuah judul cerita pendek karya Seno Gumira Adjidarma, Tempat Terindah untuk Mati! (*)