Mengantuk dan Aktivitas Fisik di Bulan Ramadhan

Wartawan : Rima Semiarty - Doktor Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Unand • Editor : Riyon • 2017-06-21 11:37:24

Banyak yang menganggap bahwa berpuasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan melelahkan dan cukup menguras tenaga. Umumnya kalau sudah jam 12 siang, para karyawan, mahasiswa dan siapapun mencari tempat untuk bisa berbaring melepaskan kantuk. 

Pengalaman saya saat mengajar, jam 10 pagi saja ada mahasiswa yang menguap tiap sebentar. Langsung saya suruh cuci muka dan melanjutkan dengan Shalat Dhuha. Sekembalinya ke kelas, mahasiswa tersebut sudah terlihat lebih segar dan bisa mengikuti perkuliahan kembali. 

Agar mahasiswa lain tidak ikut-ikutan menguap bersama, spontan saya mengajak mereka untuk melakukan senam ringan sejenak berupa senam otak dengan gerakan yang sederhana tidak menghabiskan energi terlalu banyak, namun bermanfaat bagi kesegaran jasmani terutama otak dalam berpikir.

Kenapa kita sering merasa mengantuk dalam bulan Ramadhan ini? Hal ini terjadi karena adanya perubahan jam tidur. Namun, penyebab utamanya adalah menurunnya kadar glukosa dalam darah yang membuat otak sulit berkonsentrasi. 

Otak mengkonsumsi 60% asupan glukosa tubuh yang didapatkan dari asupan makanan untuk menghasilkan energi. Jika aliran glukosa ke jaringan otak berkurang, maka akan mempengaruhi kinerja dari otak. Energi ini akan mulai berkurang di siang hari karena tidak adanya asupan makanan, sehingga organ hati akan mengeluarkan cadangan glikogen yang disimpan untuk membantu memberikan energi bagi tubuh supaya otak bisa bekerja maksimal. 

Namun, jika cadangan energi ini tidak cukup untuk membantu memberikan energi, maka akan menimbulkan rasa lemas dan mengantuk. Salah satunya juga kandungan zat besi yang berikatan dengan oksigen, sudah menurun  ke jaringan otak, menimbulkan reaksi menguap berkali-kali. 

Apakah kita bisa menghindari rasa kantuk? Secara fisiologis, rasa kantuk menjadi pertanda untuk mengistirahatkan tubuh pada waktu yang tepat. Misalnya, setelah lelah seharian beraktivitas, wajar jika kita jadi mengantuk dan tertidur. Tapi kalau rasa kantuk itu menyerang di saat yang kurang tepat seperti pagi hari, sedang kuliah, atau pada saat rapat penting yang menentukan di kantor, tentunya harus kita usir jauh jauh rasa kantuk itu. Sering juga kita melihat anggota dewan yang terhormat, tertangkap kamera TV tak kuasa menahan kantuk saat sidang di DPR. 

Di luar bulan puasa, orang sering minum kopi pagi dan sore hari agar terhindar dari rasa kantuk yang sering menyerang di saat kurang tepat. Namun di bulan Ramadhan tentunya hal ini tidak bisa dilakukan. Karena itu, diperlukan upaya pengaturan waktu tidur yang teratur, pengaturan asupan gizi makanan yang tepat, juga aktivitas fisik yang sesuai di bulan Ramadhan.

Menetapkan jadwal tidur yang teratur dan menghindari begadang, dapat mengurangi serangan kantuk di siang hari. Memakan makanan dengan kandungan karbohidrat kompleks seperti beras merah, ubi jagung singkong, juga zat besi yang tinggi yang terkandung pada sayuran berdaun hijau, ikan teri, kacang-kacangan, juga dapat membantu untuk cadangan energi tubuh.

Di samping itu, keterpaparan tubuh terhadap sinar matahari juga sangat penting karena dapat memperkuat irama sirkadian tubuh. Irama sirkadian tubuh atau dikenal juga dengan jam biologis yang mengatur kehidupan manusia dalam 24 jam. Misalnya saat matahari terbit, kita bangun dengan segar. Sebaliknya, jika matahari terbenam secara otomatis mata kita mengantuk.

Begitupun pengaturan suhu tubuh kita yang menyesuaikan dengan siklus jam, misalnya pada pagi hari suhu tubuh juga cenderung turun, sebaliknya saat mulai siang hari akan meningkat. Siklus yang demikian itu yang dinamakan jam biologis atau irama sirkadian tubuh. 

Kita tidak kuasa melawan irama sirkadian ini, namun kita berupaya memperkuatnya dengan melakukan aktivitas fisik. Melakukan aktivitas fisik salah satunya adalah dengan memperbanyak shalat, karena bisa menggerakkan anggota tubuh dan melancarkan aliran darah terutama ke otak.

Karenanya di bulan Ramadhan ini sangatlah bermanfaat apabila kita menambah amalan shalat sunah kita, misalnya menambah rakaat Shalat Duha yang tadinya mungkin hanya 2 rakaat sekarang ditingkatkan maksimum menjadi 12 rakaat, shalat tasbih yang juga banyak rakaatnya. Dengan meningkatkan aktivitas shalat, maka aliran darah kita akan lebih lancar ke kepala, oksigen mencukupi dan  kita tak lagi merasa mengantuk. 

Apakah orang berpuasa tidak bisa beraktivitas fisik? Dengan menambah shalat sunat, sebenarnya sudah lebih dari jumlah aktivitas fisik yang disarankan di atas. Namun untuk menjaga  suhu inti tubuh kita dan hormon yang mengatur kebugaran  lebih stabil, dianjurkan memang beraktivitas outdoor (di luar rumah).

Seperti telah dikemukakan di atas, sinar matahari diperlukan untuk mengimbangi irama sirkadian tubuh. Tak heran, petani petani kita yang tengah bekerja di sawah, tidak nampak mengantuk dan kelelahan, meski matahari terik memandikan tubuhnya.

Bersyukur kita hidup di Kota Padang yang terletak di pinggir laut, serta dikelilingi jajaran bukit barisan kehijauan sebagai arena yang paling tepat untuk beraktivitas fisik di alam terbuka bermandikan cahaya matahari yang menyehatkan. Kita bisa menghirup udara bersih, berolahraga ringan di sepanjang pantai sambil melepas pandangan mata nun jauh ke perbukitan sambil melatih akomodasi mata.

Mata yang sudah lelah seharian mengetik di depan komputer, akan menjadi relaks dengan memandang jauh ke arah perbukitan yang berwarna kehijauan dan laut yang kebiruan.

Karena mata ini yang sering tidak bisa kompromi di saat rasa kantuk menyerang, maka upaya mencegah agar tidak mengantuk berlebihan adalah menghindari mata dari sumber cahaya buatan yang berasal dari gadget pada saat akan tidur malam hari.

Rasa kantuk adalah wajar, sebagai sinyal jam biologis (irama sirkadian ) tubuh, namun tidak harus kita mengatasinya dengan tidur berlama lama pada waktu yang kurang sesuai. Untuk mengatasinya, pergunakanlah cara-cara beraktivitas positif, terutama di bulan Ramadhan ini dengan menambah amal ibadah kita.

Selamat menjalankan ibadah puasa di minggu terakhir ini. Semoga kita bisa mengoptimalkan ibadah tanpa diganggu rasa kantuk yang berlebihan, melalui pengaturan waktu tidur, asupan gizi yang baik dan beraktivitas fisik. (*)