Ancaman dari Masyarakat Pengawas

Wartawan : Emeraldy Chatra - Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unand • Editor : Elsy • 2017-10-12 13:28:45

Tadinya saya berniat bergabung dengan sebuah organisasi dosen yang anggotanya lebih kurang 2.600-an. Untuk mendaftar jadi anggota, saya harus mengisi borang online. Tapi setelah saya coba pelajari borang yang meminta begitu banyak data pribadi, saya mengurungkan niat.

Saya kemudian menulis di laman Facebook di mana borang itu disediakan, begini. Sebenarnya saya mau mendaftar. Tapi melihat begitu banyak data yang harus diisi, saya urungkan niat itu. Saya sekarang sangat berhati-hati karena data diri kita perlu diproteksi. Surveillance societies yang selalu mengintip data pribadi orang melalui jaringan internet itu bukan hoax, tapi real.

Saya pun memosting sebuah tulisan dari Gus Hosein tentang surveillance society (masyarakat pengawas) yang dimuat oleh The Guardian, There’s still time to stop the surveillance society (edisi online 18 Oktober 2016). 

Dalam tulisan itu Hosein menulis, “Singkatnya, pemerintah telah mengumpulkan data pribadi Anda dari penyedia telepon dan email Anda—yang telah Anda komunikasikan, saat Anda berkomunikasi dengan mereka, di mana Anda berada saat itu. Data itu memberikan gambaran rinci tentang siapa Anda, persahabatan dan hubungan keluarga Anda, minat dan gerakan Anda, termasuk pandangan politik, seksualitas Anda dan sebagainya. Dan pemerintah telah mengambil semuanya selama lebih dari satu dekade. Tanpa Anda tahu tentang hal itu. Tanpa parlemen tahu tentang hal itu (terjemahan bebas dari saya)”.

Tulisan Hosen merupakan representasi ketakutan masyarakat Barat terhadap pelanggaran atas kerahasiaan data pribadi orang. Data pribadi yang jatuh ke tangan orang-orang jahat dapat menjadi malapetaka bagi pribadi itu secara ekonomi, sosial dan politik. Orang dapat menguras rekeningnya di bank atau membuat tulisan-tulisan palsu yang akan menyeretnya ke depan pengadilan.
Dalam kecanggihan teknologi saat ini, data pribadi, terutama sekali data pupil (iris) mata, pengawasan terhadap individu nyaris sempurna. Tidak ada pupil mata manusia yang sama. Ke depan kamera CCTV yang dipasang di berbagai sudut keramaian akan mampu membaca pupil mata orang-orang yang berlalu lalang dan mengirim data ke pangkalan data. Dengan demikian di mana pun kita berada, kita tidak lepas dari pengawasan.

Di Indonesia pengumpulan data pupil mata itu sudah dimulai dari proyek e-KTP yang sekarang jadi masalah. Proyek yang menggunakan teknologi biometrix itu juga mengumpulkan sidik jari seluruh masyarakat yang memegang e-KTP. Sampai hari ini kita tidak pernah tahu bagaimana pertanggungjawaban publik dari pengumpulan data pribadi itu; apakah hanya sebatas untuk keperluan pemerintah saja, atau bukan?

Perkembangan teknologi internet menjadi pemicu rasa khawatir karena yang disebut surveillance society atau masyarakat pengawas bukan hanya pemerintah, tapi juga kelompok lain di luar pemerintah yang dapat memanfaatkan jaringan internet sedemikian rupa. Kelompok itu bekerja menguras data pribadi masyarakat untuk digunakan dalam kegiatan bisnis sampai kejahatan.

Teknologi canggih akhirnya melahirkan paradoks. Awalnya teknologi dikembangkan untuk memerdekakan manusia dari rintangan alam, sehingga kehidupan yang tadinya sulit berubah jadi mudah. Namun sekarang teknologi itu menjadi alat untuk merampas kerahasiaan data pribadi orang, sehingga tidak ada lagi privasi. Berapa nomor rekening kita, nomor sepatu, dan nomor celana pun sangat mungkin diketahui orang lain tanpa kita pernah memberitahu.

Tentu saja sudah sangat sulit bagi masyarakat melindungi data pribadi mereka. Satu-satunya tindakan yang mungkin diambil hanyalah mengurangi pemberian data sukarela, seperti mengisi borang-borang yang tidak dijelaskan untuk apa gunanya. (*)