Ketika Presiden Kembali Mantu

Wartawan : Redaksi • Editor : Elsy • 2017-11-10 13:14:04

Untuk kali kedua, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menikahkan anaknya atau mengambil menantu (mantu). Kali ini, giliran Kahiyang Ayu, putri semata wayangnya yang menikah. Adik dari Gibran Rakabuming Raka ini menikah dengan Bobby Nasution di Gedung Graha Saba Buana, Solo, Rabu (8/11). Kabar ini tentu saja berita gembira, tak hanya bagi keluarga besar Jokowi, juga masyarakat Indonesia pada umumnya.

Akan tetapi, kontroversi tetap saja mengemuka dan menyeruak ke publik. Sebagai pejabat publik, tentu kontroversi bisa saja terjadi seperti saat Gibran menikah dahulu. Salah satu yang disorot publik adalah soal kemewahan acara ini. Sebagai presiden, tentu saja wajar jika dia membuat pesta yang mewah untuk anaknya. Apalagi, ini adalah putri satu-satunya. Beda dengan Gibran, yang masih punya saudara laki-laki. Pesta Jokowi kali ini bahkan lebih mewah dibanding sebelumnya.

Kontroversi itu mengemuka karena di awal masa pemerintahannya dulu, ada imbauan kepada pejabat negara untuk mengadakan pesta secara sederhana. Bahkan ada batasan undangan, sebanyak 400 orang saja. Para pejabat negara juga diimbau untuk tidak mengadakan acara, baik dinas maupun pribadi di hotel-hotel. Kesan sederhana harus benar-benar dicerminkan pada diri pejabat negara. Awal-awalnya, kebijakan ini kerap ditentang. Akan tetapi akhirnya sempat berjalan kendati kemudian tidak konsisten. Tidak ada tindakan apa-apa ketika imbauan itu dilanggar.

Puncaknya adalah ketika Presiden Jokowi mantu. Undangannya ternyata ribuan. Mantu kedua ini pun demikian. Jumlah undangan kembali disorot. Ada 8.000 undangan resmi yang disebarkan. Itu belum termasuk tamu yang datang sebagai penggembira. Para relawan dan simpatisan politik boleh-boleh saja datang. Aparat yang mengamankan pun luar biasa. Ada 5.000 personel polisi dan TNI yang disiagakan selama acara. Luar biasa. Pesta yang benar-benar besar. Jauh dari kesederhanaan.

Publik mungkin akan memaklumi kondisi ini jika tak ada sesumbar akan menjadi teladan dalam kesederhanaan. Seorang presiden tentu saja akan membuat pesta besar untuk keluarga, apalagi anaknya. Tapi jika dari awal sudah menyatakan komitmen untuk sederhana, dan tak dilaksanakan, artinya ada janji yang diingkari. Rakyat tentu akan menilai.

Selain isu undangan yang superjumbo, salah satu isu lainnya adalah isu terorisme selama masa pesta besar ini. Beberapa media menyoroti soal kemungkinan adanya aksi terorisme ketika pesta Kahiyang-Bobby berlangsung. Lucunya, rencana ancaman terorisme ini justru disinyalir media asing. Misalnya yang menyoroti adalah South China Morning Post dari Cina, dan Bangkok Post dari Thailand. Setelah dua media asing ini heboh, barulah ada kehebohan “sedikit” di media nasional.

Itulah mungkin juga salah satu penyebab kenapa pengamanan dalam acara ini luar biasa dahsyatnya. Bahkan di televisi dapat dilihat bagaimana tank-tank militer pun dikerahkan. Seperti mau perang. Simulasi pengamanan diadakan sangat hebat. Ini tak ubahnya seperti pengamanan konferensi tingkat tinggi (KTT) yang dihadiri kepala negara asing. Bahkan jika Presiden Amerika Serikat yang datang, mereka tak segan mendatangkan kapal induk, lengkap dengan seluruh armadanya yang bisa mencapai 5 ribu personel, juga pesawat-pesawat tempurnya yang canggih. Begitulah kalau orang-orang hebat yang membuat acara. Presiden mantu tentu juga acara hebat. Wajar jika pengamanannya pun sangat hebat. (*)