Arab Saudi setelah ”Revolusi 4 November” sang Putra Mahkota

Wartawan : JPNN • Editor : Elsy • 2017-11-14 14:40:33

Dibenci Kalangan Konservatif, Dicintai Anak Muda 

Kalangan bawah mungkin mendukungnya. Tapi, ada yang menilai gebrakan Pangeran Muhammad bin Salman tergesa-gesa dan bisa membahayakan Arab Saudi.  

Revolusi 4 November. Kalimat itu tengah viral dipakai sebagai tagar di jejaring media sosial Arab Saudi. Entah dalam bahasa Arab maupun Inggris. Tagar itu menjadi bentuk dukungan mayoritas kalangan bawah terhadap operasi bersih-bersih putra mahkota Pangeran Muhammad bin Salman. 

Penduduk Saudi yang tidak berada dalam garis keturunan kerajaan memang sudah begitu muak dengan korupsi yang menggerogoti negara mereka. Karena itu, begitu Pengeran MBS –sapaan akrab sang putra mahkota– menangkapi keluarga kerajaan, para menteri, dan pebisnis yang dianggap nakal, dukungan publik langsung didapatnya. 

Sejauh ini sudah lebih dari 200 orang yang telah mengorupsi USD 100 miliar (Rp 1,3 kuadriliun) ditangkap. Jika semua uang korupsi itu bisa diambil kembali, Saudi bisa menutup seluruh utang nasional mereka. 

Tapi, benarkah yang dilakukan MBS murni untuk bersih-bersih koruptor? Banyak analis yang menilai dia sejatinya bersih-bersih orang yang berpotensi menghalangi kekuasaan. Karena itu, yang ditangkapi pun terkesan tebang pilih. 

“Saat ini saya hanya akan mengatakan bahwa Muhammad bin Salman bertindak seperti Putin. Dia menerapkan keadilan yang selektif,” tulis jurnalis senior Arab Saudi, Jamal Ahmad Khashoggi di Washington Post. 

Beberapa pihak bahkan menilai operasi penangkapan yang dilancarkan sang putra mahkota serupa dengan the night of the long knives alias operasi Hummingbird yang dilakukan Adolf Hitler pada Juni 1934. 

Hitler saat itu membunuh dan menangkapi orang-orang yang dinilai bakal menggoyang kekuasaannya. Komandan pasukan paramiliter Nazi Sturmabteilung (SA) Ernst Rohm termasuk yang menjadi korban. 

Padahal, dia adalah kawan lama Hitler. MBS juga sama. Dia menyingkirkan semua kawan dan lawan yang dianggap sebagai penghalang kekuasaannya. Salah satunya Menteri Perekonomian Adel Fakieh yang memiliki peran penting dalam menulis draf reformasi yang digaungkan MBS. 

“Bukannya mencari sekutu, Pangeran Muhammad malah memperluas kekuasaannya atas keluarga kerajaan, militer, dan Garda Nasional,” ujar dosen senior di S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura, James Dorsey. Tujuannya tentu saja memuluskan jalannya reformasi Saudi dan melanjutkan perang di Yaman.  

Berbagai rumor menyebar bahwa itu bukan sekadar bersih-bersih koruptor, tapi merupakan respons terhadap rencana kudeta kepada MBS. Putra mahkota yang masih berusia 32 tahun itu memang bisa menjadi raja kapan saja lantaran ayahnya, Raja Salman, saat ini sudah sakit-sakitan. 

Rumor menyebar bahwa Raja Salman menderita demensia. Penahanan para pangeran kali ini hanyalah sebuah langkah lanjutan. September lalu dia menangkap sekitar 20 orang ulama berpengaruh dan para intelektual yang dituding menjadi mata-mata dan mengancam kerajaan. 

Profesor ilmu politik di Duke University, Abdeslam Maghraoui mengungkapkan, penahanan para pangeran dan berbagai tokoh yang dekat keluarga kerajaan itu adalah masalah besar dan tak pernah terjadi sebelumnya. Maghraoui menilai MBS terlalu tergesa-gesa. Kebijakannya itu bisa berdampak buruk pada Saudi dan negara-negara di sekitarnya.  

“Harus diingat bahwa posisi Muhammad masih putra mahkota, suksesi setelah kematian atau mundurnya ayahnya tidak akan mulus,” katanya. 

Di Saudi, biasanya pengambilan keputusan dilakukan dengan cara musyawarah dan posisi-posisi penting dibagi antara anggota keluarga kerajaan. Tapi, kini MBS ingin keputusan tersentral pada raja. Karena itulah, dia memecat petinggi angkatan laut dan garda nasional serta menggantinya dengan orang yang dianggapnya bisa dikendalikan. 

Maghraoui berpendapat, MBS sedang berjudi besar-besaran. Dia ingin mengimplementasikan kebijakan-kebijakan visionernya dan memenjarakan orang-orang yang dianggap berbahaya baginya sekaligus. Itu bisa memicu perlawanan dan mengguncang stabilitas negara. 

MBS pantas waswas dengan kekuasaannya. Sebab, posisinya saat ini adalah pemberian dari ayahnya. Selama ini suksesi kekuasaan diserahkan kepada para putra Raja Abdulaziz Al Saud sesuai dengan urutan. Namun, itu berubah saat Raja Salman berkuasa Januari 2015. 

Posisi putra mahkota yang ditempati Pangeran Muqrin bin Abdulaziz diserahkan kepada Pangeran Muhammad bin Nayef pada bulan April tahun yang sama. Tapi, dua bulan berselang, jabatan itu kembali dicabut dan diserahkan kepada putranya sendiri, MBS.  
Dalam banyak kesempatan, MBS mengatakan ingin merombak wajah Saudi menjadi negara yang lebih modern yang tidak lagi bergantung dengan minyak. Kekuasaan polisi keagamaan untuk menangkap pelanggar aturan dihilangkan, konser diadakan kembali, larangan video call dicabut.

Tahun depan perempuan juga diperbolehkan menyetir dan menonton pertandingan di stadion. Karena kebijakan-kebijakannya itu, dia dibenci kalangan konservatif. Tapi, dicintai anak muda yang mendominasi penduduk Saudi. 

MBS kian percaya diri karena Amerika Serikat (AS) yang selama ini menjadi sekutu Saudi mendukung langkahnya. Hubungan Saudi-AS membaik sejak Trump terpilih sebagai presiden. 

Saat Barack Obama masih menjabat, hubungan dua negara terkesan dingin. Sebab, Obama memiliki kecondongan terhadap Iran. Sanksi terhadap Iran, misalnya, dicabut di era presiden berdarah Kenya itu. Padahal, Iran merupakan musuh utama Saudi. 

Berbeda dengan Obama, Trump sejak kali pertama menjabat sudah melontarkan kecaman ke negara yang dipimpin Hassan Rouhani itu. Di lain pihak, dia bermanis-manis pada Saudi. Kunjungan kenegaraan pertama Trump sebagai orang nomor satu di AS bahkan ke Saudi dan Israel.

MBS memang butuh dukungan AS untuk melanjutkan operasi militernya di Yaman. Negara yang kini luluh lantak itu menjadi lahan perang proxy antara Iran dan Saudi. 

Pasukan yang digawangi MBS kerap salah sasaran dan justru menewaskan penduduk sipil. Jumlah korban tewas sudah mencapai sekitar 10 ribu orang. Tapi, banyak pihak seakan tutup mata. AS yang biasanya kritis juga tak banyak berkomentar. (*)