Tuntut Hanya Kulit Putih di Eropa

Wartawan : JPNN • Editor : Elsy • 2017-11-14 14:42:32

Perayaan kemerdekaan Polandia pada Sabtu (11/11) ternoda. Sekitar 60 ribu orang yang mayoritas pendukung ekstremis sayap kanan turun ke jalan di Warsawa, Polandia. Mereka menginginkan hanya ada orang kulit putih di Polandia dan Eropa. Itulah salah satu demo terbesar di Eropa. Para pemimpin ekstremis sayap kanan dari berbagai wilayah di Eropa seperti Tommy Robinson dari Inggris dan Roberto Fiore (Italia) turut hadir.

Mayoritas merupakan para pemuda serta sebagian kecil lainnya adalah orang tua dan rombongan keluarga. Massa menyalakan suar dan membawa berbagai spanduk yang berisi dukungan terhadap supremasi kulit putih. Bahkan, mereka menginginkan holocaust Islam atau penghilangan Islam dari Eropa. Mereka juga menginginkan Polandia tidak menjadi negara sekuler. Mereka menyerukan slogan “We Want God’’ yang berasal dari lagu religi Polandia.

Sebagian demonstran juga membawa banner dengan logo Falaga yang merupakan logo kelompok ekstrem sayap kanan pada 1930-an. Salah satu organisasi yang menggalang aksi tersebut adalah National Radical Camp. Mereka sebelumnya pernah turun ke jalan menolak imigran muslim, hak-hak LGBT, dan berbagai hal yang dinilai tidak sesuai dengan nilai-nilai agama Katolik di Polandia. Jumlah kelompok itu kecil, tetapi kritikus menilai bahwa pemerintah Polandia terkesan membiarkan tindakan National Radical Camp yang bisa memicu xenofobia di negara tersebut.

Meski luar biasa banyak demonstran, tidak ada laporan kerusakan yang terjadi. Pemerintah Polandia menganggap aksi massa tersebut sebagai dukungan perayaan Hari Kemerdekaan. Banyaknya pendemo sampai membuat berbagai kegiatan lain untuk merayakan 99 tahun berdirinya Polandia menjadi tidak terlalu terlihat. Para petinggi di Polandia justru memuji aksi massa tersebut.

“Itu adalah pemandangan yang indah. Kami bangga ada banyak penduduk Polandia yang memutuskan ambil bagian dalam perayaan yang berhubungan dengan Hari Kemerdekaan,” ujar Menteri Dalam Negeri Mariusz Blaszczak. Media milik pemerintah, TVP, juga menyebut aksi itu sebagai aksi menunjukkan kecintaan masyarakat kepada Polandia.

Sejatinya ada satu lagi aksi massa yang menyebut dirinya sebagai kelompok antifasisme. Tetapi, jumlahnya jauh lebih kecil. Penyelenggara dan petugas keamanan sengaja membuat kedua kelompok agar tidak bertemu untuk menghindari bentrokan. 

Meski begitu, tetap saja ada insiden yang tidak terelakkan. Pendukung nasionalis menendang beberapa perempuan yang meneriakkan slogan antifasisme dan membawa banner bertulisan Stop Fasisme. Di luar itu, tidak ada bentrokan lainnya.
Perayaan Kemerdekaan di Polandia merupakan peringatan kedaulatan negara tersebut setelah berakhirnya Perang Dunia I. Sebelumnya, selama 123 tahun, tidak terdapat negara itu dalam peta dunia. (*)