Urgensi Pendidikan Keluarga

Wartawan : Ahmad Muda Harahap - Mahasiswa Prodi Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang • Editor : Elsy • 2017-11-14 14:45:48

(Tanggapan Tulisan Opini Heriyanto Rustam) 

Kolom opini Padang Ekspres, Sabtu 11 November  2017 dengan judul “Program 1821 Wujudkan Generasi Madani”, ditulis oleh Heriyanto Rustam, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengengendalian penduduk, cukup menggembirakan bagi kita. Mengamati perilaku dari remaja kita sekarang, program 1821 seperti yang ditulis oleh Heriyanto Rustam tersebut perlu kita apresiasi seterusnya dapat kita laksanakan dalam kehidupan kita sehari-hari demi kebaikan generasi kita ke depan. 

Program 1821 tersebut dalam praktiknya dilaksanakan dalam keluarga, dalam literatur akademik disebut sebagai pendidikan keluarga. Prof Dr Hasan Langgulung seorang ahli pendidikan Islam menyebutkan bahwa pendidikan keluarga merupakan pendidikan pertama dan yang paling utama. Senada dengan itu, Prof Dr Zakiyah Drajat menyatakan pendidikan keluarga sebagai pendidikan utama yang tidak dapat digantikan oleh pendidikan yang lain, karena awal pembentukan kepribadian individu dimulai dari keluarga.

Namun perlu diingat, membangun karakter yang baik bukanlah pekerjaan yang mudah dan sederhana.  Ia membutuhkan stuasi psikologis dan sugesti yang kondusif bagi internalisasi nilai. Dalam tulisan yang singkat ini mencoba mengulas kembali tentang berbagai infrastruktur yang harus disediakan dalam keluarga bagi pembentukan insan yang berkepribadian baik.

Pertama, pengetahuan tentang nilai. Elizabeth Hurlock mengatakan, tingkah laku manusia dipengaruhi oleh aspek afektif,  kognitif dan fsikomotorik. Jika seseorang memiliki kapasitas yang seimbang dari ketiga aspek tersebut maka secara teori ia dapat hidup harmoni dengan lingkungannya dan dengan dirinya, karena ia mampu mengamati dan merespons permasalahan secara benar dan proporsional. Jadi pengetahuan tentang nilai ahklak itu sangat besar pengaruhnya dalam membentuk karakter terutama bagi anak-anak yang memiliki fitrah bawaan yang baik dan tentu hal ini dimulai dari keluarga. 

Kedua, menciptakan lingkungan yang kondusif. Dalam sebuah penelitian sebagaimana dikutif oleh Prof Dr Zakiah Daradjat, disebutkan bahwa perilaku manusia 83% dipengaruhi oleh apa yang dilihat, 11% oleh apa yang didengar, dan 6% sisanya oleh gabungan dari dari berbagai stimulus. Dalam perspektif ini maka pengaruh lingkungan terhadap pembentukan kepribadian orang sangat besar, di dalam rumah dan di luar rumah.

Tamsil kekuatan lingkungan disebutkan dalam hadist Nabi yang mengatakan bahwa bergaul dengan orang baik itu seperti orang yang berdekatan dengan penjual minyak wangi. Meskipun tidak membeli tetapi dirinya ikut wangi, karena watak penjual minyak wangi itu selalu menempelkan minyak wangi yang dijajakannya kepada setiap orang yang datang menekat sebagai promosi. Sementara bergaul dengan orang jahat itu ibarat berakrab-akrab dengan tukang pandai besi ( yang sedang bekerja), kalau tidak terpercik apinya, hampir pasti abunya akan mengotori pakaiannya.

Ketiga, membangun tokoh idola. Dalam ilmu psikologi perkembangan anak dikatakan bahwa, masa anak dan remaja merupakan masa motif imitasi dan identifikasi sedang dalam pertumbuhan dan mencapai puncaknya. Ketika masa anak-anak ayah adalah tokoh identifikasinya. Bagi anak-anak figur ayah adalah tokoh yang paling terhebat dalam alam psikologisnya. Seorang ayah yang bisa memenuhi motif identifikasi anaknya hingga anak itu meningkat remaja, maka ia akan tetap menjadi tokoh idola anaknya. Dengan pengertian lain, seorang ayah akan tetap besar meski secara sosial mungkin tidak. Sebaliknya seorang ayah yang gagal menjadi tokoh idola anaknya katika masih anak-anak dan remajanya, maka di mata anak tetap tidak besar meskipun boleh jadi secara sosial ia adalah tokoh besar. 

Seorang anak membutuhkan ayah sebagai ayahnya sendiri, bukan ayahnya orang banyak. Dalam perspektif ini maka seorang anak yang tidak mengenal ayahnya (atau ibunya) mengalami krisis identitas, karena ia kehilangan tokoh idola. Untuk bisa menjadi idola anaknya, seorang ayah juga harus mempunyai konsep tentang anak, apa yang diinginkannya tentang anaknya, mau dibentuk menjadi apa dan siapa. Tanpa konsep itu maka seorang ayah tidak bisa mendesain kapasitas dan corak moralitas anaknya. 

Oleh karena itu, orang tua mesti mengenalkan para tokoh yang baik bagi anak. Jangan sampai momen ini terlewatkan sehingga anak memilih tokoh idolanya sendiri yang belum tentu baik. Seperti tokoh selebritis atau bahkan tokoh penganut ideologi radikal. Mestinya orang tua sejak dini mengenalkan tokoh-tokoh besar dunia kepada anak, seperti nabi Muhammad SAW, Abu Bakar, Umar Ibn Khattab, Jamah Abdul Nasser, Harun al-Rasyid, dan lain-lain.

Keempat, pembiasaan kepada pola tingkah laku konstruktif. Jika transfer ilmu pengetahuan dapat dilakukan dengan pengajaran maka pembentukan pola tingkah laku merupakan tujuan dari pendidikan. Pendidikan adalah transfer budaya, sementara kebudayaan masyarakat manapun mengandung unsur-unsur; ahklak atau etik, estika, ilmu pengetahuan dan teknologi. Tingkah laku manusia tidak selamanya logis, sebaliknya sebagian besar perilaku manusia justru terbangun melalui pembiasaan. Orang yang sudah biasa bangun pagi, tetap saja bangun pagi meskipun tidurnya terlambat. Begitulah dengan perilaku-perilaku lainnya, ia tidak dapat dilakukan dengan tiba-tiba, tapi ia terkadang harus melaui pembiasaan yang rutin dilakukan.

Dengan paduan keempat poin di atas dalam diri para orang tua, guru dan seluruh masyarakat, mudah-mudahan kita bisa mewujudkan mimpi untuk membangun generasi kita yang memiliki kepribadian yang baik. Wallohu ‘alam. (*)