Musim Depan Dibayangi Grup Neraka

Wartawan : JPNN • Editor : Riyon • 2017-06-05 10:22:24

Real Madrid torehkan sejarah baru dalam sejarah Liga Champions sebagai tim pertama yang mampu menjuarai kompetisi tertinggi di Benua Biru itu secara back-to-back usai menekuk Juventus dengan skor 4-1 di Millennium Stadium, Cardiff, dinihari kemarin.

Bicara sejarah tentunya sebagai tim terbaik sejagad Eropa, tentunya bakal menarik melihat perjalanan El Real di musim depan dalam usaha mereka mencatatkan hattrick juara.

Namun, ujian berat hampir dipastikan sudah menunggu Cristiano Ronaldo di babak penyisihan grup, hal itu jika menilik pembagian pot sementara untuk fase grup Liga Champions musim 2017–2018.

Juventus maupun Real Madrid sudah pasti berada di pot 1. Sebab, mereka adalah kampiun domestik. Juve merupakan jawara Serie A dan Real adalah kampiun La Liga.

Posisi yang (pot 1) juga ditempati kampiun lainnya, antara lain Bayern Muenchen (Jerman), Chelsea (Inggris), Benfica (Portugal), AS Monaco (Prancis), Spartak Moscow (Rusia), dan Shakhtar Donetsk (Ukraina).

Karena sama-sama berada di pot 1, para jawara itu tidak bisa bertemu di fase grup. Namun, potensi terjadinya grup neraka tetap terbuka saat drawing yang akan dilaksanakan 25 Agustus mendatang.

Penyebabnya, pot kedua dihuni klub-klub langganan juara domestik dan punya tradisi bagus di pentas Eropa. Sebut saja Barcelona, Paris Saint-Germain (PSG), Atletico Madrid, Manchester City, dan Manchester United.

Jangan remehkan pula tim-tim yang menghuni pot ketiga. Misalnya, Liverpool, Napoli, dan Tottenham Hotspur. Selain itu, finalis Europa League Ajax Amsterdam bisa menjadi ancaman La Vecchia Signora julukan Juventus–atau Real di Liga Champions musim depan. Itu terjadi jika Ajax ditempatkan satu grup dengan dua finalis tersebut.

Juventus bukan tidak mungkin bersua dengan Barcelona lagi seperti pada perempat final Liga Champions April lalu. Bisa saja itu menjadi duel pertama dua klub tersebut di fase grup Liga Champions. Sebelumnya, dua tim lebih sering bentrok di fase knockout.

“Ide saya tetap sama, melanjutkan apa yang sudah berjalan. Jika kami mampu, kami bisa menatap ke depan dan melakukannya lebih baik lagi,” kata pelatih anyar Barcelona, Ernesto Valverde, kepada Football Espana. “Sebab, itulah sepakbola, menang supaya bisa menyenangkan fans,” ujar mantan pelatih Athletic Bilbao tersebut.

Justru, lanjut Valverde, Barca –sebutan Barcelona– bisa lebih rileks saat memulai fase grup dengan status non unggulan. Sebab, berdasar pengalaman terakhir, memulai Liga Champions bukan dari pot unggulan, mereka justru sukses.

Tepatnya ketika Liga Champions 2014–2015. Barcelona saat itu memulai Liga Champions dari pot kedua. Di fase grup, Barcelona bergabung dengan PSG dan Ajax. Barca akhirnya bisa bablas sebagai juara setelah menang 3-1 atas Juve di partai final. (*)