Peradaban Digitalisasi Kota Padang

Wartawan : Rezki Rifai - Pemerhati Kota Padang • Editor : Elsy • 2017-09-28 14:48:01

Zaman selalu berubah, siapa yang menduga berabad-abad yang lalu orang akan bisa terbang, jangankan terbang untuk berkendara memakai alat transportasi beroda saja belum terpikirkan. Untuk menutup bagian tubuh saja kadang ada kadang tidak. Tapi begitulah kehidupan, roda selalu berputar dan bergerak dinamis, walaupun diselingi dengan bebatuan dan kerikil yang kadang kala membuat “tagalenjek”.

Perubahan demi perubahan terjadi di segala medan, hampir di semua lini kehidupan berubah. Sekarang orang bisa terbang dalam hitungan jam bisa ke beberapa kota tanpa harus menginap. Seandainya proyek concorde tetap berlanjut, tidak mustahil Padang Jakarta ditempuh hanya dengan 20 menit saja. Kendaraan di darat mulai berevolusi, siapa sangka dulu yang semua perintah harus dikerjakan manual, dekade ini sopir bisa duduk dengan tenang dan berselonjor karena semua dikendalikan oleh komputer. 

Perkembangan zaman pun masuk ke lini berpakaian, di mana sekarang berpakaian bisa mengikuti selera, bisa dengan syari yang benar-benar menutup bagian tubuh tetapi juga ada yang berusaha supaya bagian tubuhnya sengaja diperlihatkan. Ah sudahlah....
Kota Padang mau tidak mau juga terimbas oleh perubahan peradaban ini. Ketika suatu zaman, orang berlomba-lomba membangun masjid dan tempat ibadah, sekarang Kota Padang sangat-sangat sibuk membangun tempat perbelanjaan dan hotel. 
Ketika medio sebelum gempa 30 September 2009 pusat perbelanjaan hanya Basko, Suzuya dan Plaza Andalas, sekarang ada Transmart Padang, dalam proses pembangunan Padang Landmark yang berubah dari konsep awal grup Lippo. Tidak ada masalah berarti yang mengiringi proses pembangunan ini, kalaupun ada hanya gejolak saat pertama kali Lippo ingin membangun Rumah Sakit Siloam dan itu dengan bijak bisa diselesaikan. Hotel-hotel baru lebih menampakkan nyalinya di zona gempa ini. Hotel Mercure, Hotel Ibis (Accor Group), Kiryad Bumiminang, Grand Inna Muara, Savali, Plan B, Amaris Hotel, Fave Hotel, Imelda Hotel dan satu hotel yang sebentar lagi launching di jalan protokol Khatib Sulaiman.

Saat semua investasi besar ini masuk ke Kota Padang, hampir semua masyarakat menerima dengan tangan terbuka. Karena masyarakat Padang terkenal dengan pemikiran terbuka, sehingga peradaban apapun bisa diterima selagi dalam koridor Adat Basandi Syara’ Syara’ Basandi Kitabullah. Begitulah masyarakat Padang, heterogen, berbagai suku dan agama, berbeda cara pandang tetapi bisa bersatu dengan baik walaupun sangat berbeda. Ketika kita mendukung pemerintah melarang Indomaret dan Alfamart masuk dan menggurita di Kota Padang, tetapi di lain pihak regulator memberi tempat untuk Minang Mart, dan masyarakat pun menerima dengan baik.

Makanya menjadi tidak aneh apabila putra-putra Padang sangat berperan di dunia digitalisasi, siapa tidak kenal Donny Oskaria, seorang pemuda asal Tanahdatar sekarang menjadi CEO di beberapa Perusahaan Trans Corp, Komisaris di Garuda Indonesia dan Penasihat Presiden bidang Ekonomi. Beliau sukses mentransformasi Trans Corp menjadi gurita bisnis di Indonesia dan dunia. Tangan dinginnya sukses mengubah Carrefour menjadi konsep Transmart yang menggabungkan hiburan, belanja dan rekreasi. 
Bukalapak, yang menjadi situs belanja online terbesar di Indonesia dengan lebih dari 2.000 pelapak yang berdagang disana adalah hasil kreasi anak muda kreatif Sumatera Barat, Zaki. Hasil mentoring dengan para senior bidang IT membuat Zaki sekarang menjadi salah satu anak muda sukses di tingkat nasional. Hasil karyanya ini memudahkan semua orang baik pedagang, mulai UMKM sampai grosiran untuk bertemu dengan keinginan pelanggan hamya melalui sentuhan tangan di handphone. Satu lagi anak muda cerdas asal Padang adalah Ferry Urnaldi, mendengar namanya mungkin sangat asing di telinga kita. Tapi ketikaTraveloka di ke depankan maka kita akan “takajuik” karena dengan sentuhan magisnya lah memesan tiket pesawat, kereta api, hotel dan lain sebagainya, semudah menyisir rambut yang sudah dilumeri pomade, rapi dan berisi. Dengan gadget di tangan dunia seakan berada di hadapan kita.

Dengan referensi yang jelas seperti diatas, seharusnya saat Gojek, Uber dan Grab mulai merambah Kota Padang seharusnya tidak akan terjadi gejolak. Karena konsep mereka jelas, pemberdayaan masyarakat. Masyarakat bisa memilih moda transportasi yang diinginkan hanya dengan sekali klik. Ketika beberapa tahun yang lalu, untuk mencari taksi saja sudah susah minta ampun, ketika bersua pun, argo tidak dihidupkan. Sekarang? Setelah klik saja kita sudah mengetahui berapa yang akan kita bayar dan dengan tenang kita menunggu jemputan di mana pun kita berada. Tetapi, ternyata belum sepenuhnya masyarakat bisa menerima perubahan ini. 

Sebagai user, masyarakat tentu menginginkan transportasi yang aman dan nyaman. Angkutan kota di Padang ini, sudah menjadi rahasia umum bagaimana profilnya. Aturan berkendara sudah sangat jelas, sopir dilarang ugal-ugalan, dilarang merokok di atas kendaraan dan harus bersikap sopan. Fakta di lapangan berbanding terbalik, walaupun tidak sedikit yang benar-benar patuh dengan aturan. Seharusnya inilah yang dibenahi oleh pemerintah kota sebagai regulator. Masyarakat pasti akan senang memakai angkutan kota apabila syarat-syarat tadi terpenuhi, karena memang masih diperlukan jasa mereka di kota ini. Tetapi anehnya pemerintah malah menutup jasa transportasi yang sangat menunjang kehidupan di semua lini masyarakat Padang dikarenakan demonstrasi sopir angkot. 

Sah-sah saja menyampaikan aspirasi, karena semuanya dijamin undang-undang. Tapi yang perlu dipikirkan juga ada lebih dari 2.000 pekerja di industri tranportasi online ini terancam menjadi pengangguran. Sementara mereka bekerja dengan baik dan benar. Kalau bicara rezeki, semua sudah diatur Allah, tidak akan berkurang rezeki seseorang apabila mereka bersyukur karena rezeki tidak berpintu. 

Makanya, mari duduk bersama mencari solusi, bukan lewat provokatif yang membuat pihak yang berkepentingan menjadi terganggu. Menyelesaikan masalah Pantai Padang, Pasar Raya, Permindo dan pasar satelit, pemerintah bisa sangat elegan, nyaris tanpa gejolak. Ketika pembangunan mall dan hotel sangat mudah mendapat izin dari regulator, seharusnya masalah transportasi ini pasti bisa diselesaikan dengan jernih. Perubahan digitalisasi sekarang sudah mendunia, janganlah Padang malah mengalami kemunduran. (*)