Perjuangan dan Tantangan Kehidupan

Wartawan : Hujaipah Dalimunthe - Mahasiswa Program Pasca Sarjana Bimbingan dan Konseling UNP • Editor : Elsy • 2017-10-02 13:16:45

Kehidupan manusia di dunia yang akan bermuara pada kehidupan kekelan di akhirat, tidak bisa dijalani apa adanya, dalam arti, tanpa upaya untuk menjadikan manusia itu berkehidupan mulia, sebagai mana yang digariskan oleh Yang Maha Pencipta. Kemuliaan hidup manusia akan terwujud jika kesejatian manusia berkembang sesuai dengan rentang usianya. Kesejatian manusia itu terdiri atas komponen hakikat manusia, potensi dasar manusia dan zona kehidupan manusia. 

Di antara manusia ada yang bertanya dan berpikir secara mendalam. Ingin mengetahui apa dan siapa sebenarnya manusia itu. Banyak yang mencari-cari tentang kesejatian manusia. Hal ini akan terlihat jika hakikat manusia itu diketahui. Hakikat manusia adalah sebagai makhluk Allah yang berpanca citra, yaitu beriman dan bertakwa kepada Allah, diciptakan paling sempurna, paling tinggi derajatnya, sebagai khalifah di muka bumi dan menyandang HAM (Hak Asasi Manusia). Kelima citra manusia ini adalah keseluruhan komponen aspek diri manusia. 

Manusia yang lahir di atas dunia dilengkapi dengan potensi dasar kemanusiaan yang terdiri atas unsur-unsur panca daya, yaitu daya takwa, daya cipta, daya rasa, daya karsa dan daya karya. Manusia dalam kehidupannya saat panca daya ini berkembang secara optimal maka ia menjadi manusia yang berdaya guna dan bermanfaat bagi sekitarnya.

Unsur-unsur kesejatian manusia itu akan berkembang dalam zona kehidupan manusia, yaitu zona kefitrahan, zona keindividualan, zona kesosialan, zona kesusilaan dan zona keberagaman. Manusia sebagai hamba ciptaan Tuhan lahir dalam keadaan fitrah suci dan mengandung potensi takwa dan keburukan. Keduanya akan mempunyai peluang yang sama dalam rentang kehidupan manusia. Sebagi seorang diri yang memiliki kediriannya manusia hidup dalam zona keindividualan, manusia itu unik berbeda dengan manusia lainnya.

Setiap manusia memiliki keunikan dan keberagaman tersendiri bahkan dengan kembaran sekalipun. Sebagai bagian dari masyarakat dan unsur dari masyarakat manusia hidup dalam wilayah kesosialan. Manusia yang berkembang dengan baik akan hidup bermasyarakat; ikut berbaur dan bergaul dengan masyarakat sekitar dimana manusia itu tinggal. Manusia yang hidup tanpa merasa bagian dari masyarakat mengucilkan diri atau dikucilkan akan terhambat secara sosial dan akan menjadi manusia yang hanya bisa sholeh secara individual tanpa memiliki kesolehan sosial. Manusia dalam menjalani kehidupannya akan berupaya menciptakan kehidupan yang aman dan damai. Mencapai keamanan dan kedamaian itu, maka ia akan hidup dalam wilayah aturan dan keagamaan.

Tuhan telah menggariskan bahwa kehidupan manusia akan berada pada lingkaran bahagia dan sengsara, masalah dan solusi, menang dan kalah serta kebaragaman dan kekomplekan zona kehidupan manusia. Lebih jauh Sang Maha Pencipta juga menegaskan bahwa dalam kehidupannya, manusia (setiap saat) dihadapkan pada kondisi yang mengarah ke jalan kebaikan dan di sisi lain ke jalan kesesatan.

Berbahagialah mereka yang menempuh jalan kebaikan, dan celakalah mereka yang menempuh jalan kesesatan. Mampukah manusia dalam kehidupannya memilih jalan kebaikan itu dan menghindar diri dari jalan kesesatan? Jawabannya, di sanalah letak perjuangan dan tantangan kehidupan.

Manusia akan dihadapkan pada kondisi di mana ia dituntut untuk memutuskan memilih kenikmatan sesaat yang akan menjerumuskan dirinya pada kesengsaraan berkelanjutan dan berketerusan.

Secara tegas Tuhan yang Maha Pemberi Petunjuk telah mengingatkan bahwa atas nama masa, manusia akan menyesal dan mengumpati diri karena kekalahan dalam perjuangan dan menghadapi tantangan kehidupan. Bahkan mereka memohon agar dikembalikan ke dunia agar kembali berjuang mengarungi tantangan kehidupan lagi sehingga tidak merana seperti yang mereka rasakan.

Penyesalan itu tidak akan menimpa manusia, yaitu mereka yang tetap mengembangkan hakikat kemanusiaan, potensi dan dalam zona kehidupannya. Kemudian mereka juga berupaya untuk menjadi pribadi yang mulia, diakui oleh dirinya sendiri maupun masyarakat sekitar. Ada manusia hanya mulia di hadapan orang banyak tetapi kediriannya mengingkari kemuliaannya. Kondisi ini lantaran hanya yang baik-baik muncul di permukaan, sedangkan kesalahan dan kelemahan diri jauh berada dalam palung diri dan diakui keadaannya.

Kemudian manusia itu menularkan kebaikan-kebaikan pada orang lain dimana saja ia barada. Tidak hanya dalam lingkungan rumah tangga, tetapi juga di lingkungan tempat bekerja maupun di lingkungan masyarakat. Terakhir manusia yang akan menjadi pemenang, ialah manusia yang konsisten dalam pengembangan diri menuju manusia efektif dalam kehidupan sehari-hari; menjadi manusia yang damai, berkembang, maju, sejahtera dan bahagia dunia akhirat. (*)