2020 Sumbar Menuju Struktur Penduduk Tua

Wartawan : Rita Diana - Statistisi Muda BPS Provinsi Sumatera Barat • Editor : Elsy • 2017-10-02 13:17:38

Berdasarkan data proyeksi penduduk Indonesia tahun 2010-2035, diperkirakan Indonesia memiliki jumlah orang tua berusia lebih dari 60 tahun (lansia) akan tumbuh dari 18,04 juta jiwa tahun 2010 menjadi 27,09 juta jiwa pada tahun 2020. Angka ini diprediksi akan terus bertambah sampai tahun 2035 menjadi 48,20 juta jiwa. 

Jika dilihat secara persentase penduduk lansia terhadap populasi penduduk di Indonesia, tercatat dari 7,6 persen tahun 2010 akan tumbuh dua kali lipat di tahun 2035 sebesar 15,8 persen. Jadi Indonesia akan menuju struktur penduduk tua (ageing population) pada tahun 2020.

Besarnya jumlah penduduk lansia di Indonesia pada masa depan dapat membawa dampak positif maupun negatif. Apabila penduduk lansia berada dalam keadaan sehat, aktif dan produktif tentu akan membawa dampak positif. Namun sebaliknya, jika lansia memiliki masalah penurunan kesehatan yang mengakibatkan peningkatan biaya pelayanan kesehatan serta penurunan pendapatan/penghasilan, membuat penduduk lansia akan menjadi beban.

Apabila ini terjadi maka tanggung jawab pemerintah akan semakin bertambah berat. Meningkatnya jumlah usia lanjut tidak terlepas dari faktor keberhasilan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang ditandai dengan meningkatnya usia harapan hidup. Pada tahun 2010 usia harapan hidup rata-rata penduduk Indonesia adalah 69,81 tahun dan pada tahun 2016 mengalami peningkatan menjadi 70,90 tahun (BPS, 2016).

Bagaimana kondisi lansia Sumatera Barat, kapankah Sumatera Barat memasuki era penduduk tua? Berdasarkan data proyeksi penduduk Provinsi Sumatera Barat tahun 2010-2035, diprediksi jumlah penduduk lansia Provinsi Sumatera Barat tahun 2016 sebanyak 473,1 ribu jiwa atau setara dengan 9,0 persen dari seluruh penduduk Sumatera Barat dan akan tumbuh menjadi 554,1 ribu jiwa atau 10,1 persen tahun 2020. 

Sama halnya dengan nasional, Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2020 juga akan memasuki struktur penduduk tua (ageing population) dengan rasio ketergantungan penduduk lansia sebesar 14,2 persen. Artinya setiap satu penduduk lansia akan ditanggung oleh 7 penduduk usia produktif. 

Hasil Sakernas Agustus 2016, penduduk lansia Sumatera Barat yang bekerja sebesar 44,56 persen, dan sebesar 0,94 persen menganggur. Tingginya persentase penduduk lansia yang bekerja tidak hanya dipandang bahwa mereka masih benar-benar mampu bekerja, tetapi juga bisa bermakna bahwa tingkat kesejahteraannya masih rendah, sehingga di usia senja mereka terpaksa masih harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) lansia pada tahun 2016 sebesar 44,98 persen. Hal ini menunjukkan bahwa partisipasi penduduk lansia dalam kegiatan ekonomi cukup besar. Nilai TPAK sebesar 44,98 persen menunjukkan dari 100 lansia, sekitar 45 orang masih aktif melakukan kegiatan ekonomi. Sebagian besar penduduk lansia yang bekerja masih berpendidikan rendah, penduduk lansia yang tidak/belum sekolah atau tidak/belum tamat SD sebesar 40,81 persen, dan tamat SD/sederajat sebesar 32,21 persen.

Dengan semakin meningkatnya jumlah lansia, dibutuhkan perhatian dari semua pihak dalam mengantisipasi berbagai permasalahan yang berkaitan dengan lansia. Terjadinya perubahan struktur penduduk lansia membawa implikasi pada perumusan dan arah kebijakan pembangunan, salah satunya untuk memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan lansia secara terpadu dan lintas sektor. Sehingga terwujud masyarakat lansia yang sehat, mandiri, aktif dan produktif. 

Pada masyarakat modern, keberadaan orang tua dalam keluarga anak dapat menganggu kehidupan ekonomi keluarga anak, dan mungkin masalah kepengurusan rumah tangga karena turut campurnya orang tua dalam urusan keluarga anak. Kecenderungan masyarakat modern saat ini membentuk keluarga inti membawa masalah terhadap jaminan ekonomi dan kesehatan lansia.

Penelitian Edi Indrizal (2005) mengenai orang lansia di Minangkabau, menunjukkan bahwa dalam tatanan ideal masyarakat matrilineal Minangkabau, hubungan struktur keluarga, ikatan solidaritas sosial dan tradisi merantau menjadi jaminan sosial bagi orang lansia. Sehingga, orang lansia tidak boleh hidup tersia-sia di hari tuanya karena dapat menjadi aib malu anak-kemenakan, keluarga, kerabat atau bahkan orang sekampung. Namun dalam kondisi yang berubah dalam masyarakat Minangkabau kontemporer, di antaranya perubahan struktur keluarga luas ke keluarga inti, membawa konsekuensi perubahan fungsi struktur keluarga dan hubungan sosial dalam masyarakat Minangkabau.

Perubahan-perubahan fungsi struktur keluarga membawa implikasi terhadap kehidupan orang lansia. Orang lansia tanpa anak memperoleh masalah tersendiri di dalam masyarakat Minangkabau.

Di Indonesia, dalam usaha mewujudkan kesejahteraan sosial bagi para orang usia lanjut. Pemerintah menetapkan kebijakan untuk membantu dan menyantuni para orang lansia baik dalam panti maupun di luar panti. Pemberian bantuan dan penyantunan kepada orang lansia di dalam panti ditujukan pada orang lansia yang kondisi fisik maupun ekonomi mereka lemah. Program pemerintah, misalnya posyandu lansia yang memberikan pelayanan kesehatan seperti pengecekan kesehatan, penyuluhan menu sehat, olahraga lansia di dalam masyarakat sampai ke tingkat kelurahan, menunjukkan perhatian pemerintah terhadap orang lansia. 
Namun belum semua elemen masyarakat lansia dapat dicapai melalui program tersebut. Oleh karena itu perlu adanya tindakan berupa penyediaan sarana/prasarana bagi penduduk lansia agar dapat mengembangkan potensi dan bakat yang mereka miliki. Sehingga, mereka menjadi lebih produktif kembali.

Jika program ini berjalan, tentu penduduk lansia Indonesia sepuluh atau dua puluh tahun lagi, tidak akan menjadi beban bagi kelompok usia produktif dan malah dapat membantu menanggung kebutuhan kelompok usia produktif.

Lain halnya pada negara industri maju, seseorang dianggap memasuki usia tua pada 65 tahun. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai usia 60 tahun adalah awal peralihan menuju ke arah segmen penduduk tua. Bahkan di Jepang para pekerja umumnya berusia di atas 60 tahun dan banyak orang Jepang yang memasuki kesuksesan pada usia 60 tahun. Itulah sebabnya, ada pameo di Jepang yang menyebutkan “life begin at 60”.

Semua jawabannya ada pada bagaimana kita generasi sekarang mempersiapkan masa tua kita nantinya, baik secara finansial, kesehatan, psikologi dan lingkungan sosial. Selamat Hari Lanjut Usia Internasional 2017 yang jatuh pada tanggal 1 Oktober. (*)