Berebut Kursi CPNS

Wartawan : Yushendra HS - Mahasiswa Program Magister Ilmu Komunikasi FISIP Unand • Editor : Elsy • 2017-10-05 13:34:03

Saya teringat ketika masih menjadi mahasiswa belasan tahun yang lalu, tak terbesit sedikit pun cita-cita menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Selain karena lingkungan keluarga saya tidak ada yang berprofesi PNS, pandangan saya saat itu, profesi PNS bukanlah profesi yang menarik untuk dicita-citakan. Stereotipe negatif terlanjur melekat pada profesi yang sejatinya adalah pekerjaan mulia. Ya, mulia. PNS adalah aparat pemerintah yang bertugas melayani beragam urusan masyarakat.

Bicara tentang profesi PNS atau sekarang dikenal dengan sebutan Aparatur Sipil Negara (ASN) menjadi menarik ketika seleksi penerimaan calon PNS (CPNS) dibuka. Di tahun 2017 ini, pemerintah kembali membuka seleksi CPNS setelah beberapa tahun yang lalu pemerintah melakukan moratorium penerimaan CPNS. Dibukanya kembali seleksi penerimaan CPNS seolah menjadi harapan baru para pencari kerja mengingat masih tingginya angka pengangguran di Indonesia. Berdasarkan rilis data Badan Pusat Statistik (BPS) yang penulis kutip dari media online kumparan, pada Februari 2017 jumlah pengangguran tercatat sebanyak 7,01 juta orang.

Di tengah stereotipe negatif PNS, pencari kerja di Indonesia justru berebut mendaftar untuk mengikuti seleksi CPNS. Berdasarkan data center Sistem Seleksi CPNS Nasional (SSCN) BKN, sampai pada hari penutupan pendaftaran 26 September 2017, jumlah pelamar mencapai 1.295.925 orang (liputan6.com). Fenomena ini tentu suatu yang kontradiktif dengan kenyataan pandangan masyarakat terhadap profesi abdi negara ini. Seolah begini, profesi PNS itu dibenci tapi, di satu sisi profesinya dirindukan. Buktinya, banyak yang memandang negatif tapi ketika lowongan CPNS dibuka, masyarakat berebut ingin melamar. 

Sebenarnya, jika merujuk pada sejarah bangsa Indonesia, sejak penjajahan kolonial Belanda sudah mulai diberlakukannya sistem birokrasi/administrasi kolonial (binnenlandcshe bestuur) modern. Birokrasi pemerintahan kolonial disusun secara hierarki yang puncaknya pada Raja Belanda. Di zaman itu, untuk menjalankan pemerintahannya, kolonial Belanda mempekerjakan orang-orang pribumi sebagai pelaksana, pelayan pemerintah dan perantara antara Belanda dengan penguasa daerah. Tetapi untuk dapat bekerja di pemerintah maka mereka harus sekolah. Sejarah ini membuktikan bahwa menjadi pelaksana atau pelayan pemerintah adalah profesi yang terpandang dan dianggap penting

Lalu, bagaimana pandangan masyarakat terhadap profesi PNS sekarang?

Hal yang ganjil menurut saya terkait pandangan profesi PNS di tengah masyarakat adalah adanya dualisme penilaian. Jika satu sisi menyematkan dengan stereotipe negatif, di sisi lain, banyak masyarakat yang menginginkan anak-anak mereka bekerja sebagai PNS. Bahkan mencari calon menantu pun menginginkan yang berprofesi sebagai PNS. Sadar atau tidak sadar, masyarakat kita menilai profesi PNS sebagai profesi yang “save”, terbebas dari risiko dipecat selayaknya karyawan swasta, bangkrut jika berwiraswasta dan yang pasti memiliki jaminan hari tua. Meskipun, sebanarnya penghasilan menjadi PNS tidak menjamin seseorang akan menjadi kaya, tapi ternyata masyarakat kita melihatnya berbeda, dengan sistem pekerjaan yang tergolong “santai”, banyak PNS memanfaatkan waktu luang di luar profesinya membangun usaha, seperti berdagang atau berinvestasi dengan beragam cara. Mungkin inilah yang kemudian terlihat bagi banyak orang profesi PNS menjadi sangat menarik, gaji bulanan lancar, waktu luang bisa berbisnis dan hari tua terjamin. Dan jika beruntung kursi jabatan dengan fasilitas menarik pun akan bisa digapai. Amboiii, asyiknya jadi PNS. 

Sebagai seorang yang juga berprofesi PNS, sebenarnya ada gambaran lain profesi PNS yang jarang terpublikasi. Tak sedikit PNS yang memiliki integritas, berprestasi dan menjadikan profesi PNS sebagai sarana untuk pengembangan diri. PNS seperti ini memiliki dedikasi yang tinggi terhadap profesi yang diembannya. Dapat dikatakan PNS angkatan muda sekarang merupakan hasil seleksi yang diikuti secara ketat dan merupakan orang-orang terbaik dengan kemampuan akademis maupun praktis.

Hal ini terbukti dengan banyaknya PNS muda yang berhasil meningkatkan jenjang pendidikannya melalui program-program beasiswa yang disediakan pemerintah maupun swasta dan melanjutkan studinya di kampus-kampus terbaik dalam negeri bahkan ke luar negeri. Untuk peningkatan profesionalisme kerja, tak sedikit juga PNS yang berprestasi mengikuti program-progam pendidikan dan pelatihan guna menunjang kinerja sesuai jabatan, tugas pokok dan fungsinya.  

Melalui tulisan ini saya hanya berharap dibukanya seleksi penerimaan CPNS yang berbasis komputer dan proses seleksi yang berjenjang akan menghasilkan CPNS baru yang berdedikasi tinggi sebagai pelayan masyarakat, dan merubah image negatif yang terlanjur melekat pada profesi PNS. Dengan jumlah pelamar yang mencapai ratusan ribu orang bahkan hingga tembus angka satu juta, tentu bukan kompetisi yang mudah, apalagi jumlah formasi yang dibutuhkan juga terbatas. Hal ini menjadi gambaran bahwa untuk menjadi salah satu peserta yang lulus diperlukan usaha, ketekunan dan kehati-hatian dalam setiap proses yang telah ditetapkan.

Untuk itu, sebelum mendaftar, calon peserta perlu memperhatikan, membaca dengan cermat dan pahami tata cara pendaftaran. Tak sedikit calon peserta gagal sebelum mengikuti proses seleksi dikarenakan kesalahan dalam menginput data atau kurang berkas yang dikirim ke panitia. Tantangan lainnya, jika telah lulus administrasi dan memasuki proses tes banyak peserta yang gagal karena tidak berhasil melampaui skor nilai ambang batas yang telah ditetapkan pada tahap Seleksi Kompetensi Dasar (SKD).
Sebagaimana dalam Peraturan Menteri PANRB No.22/2017 tentang Nilai Ambang Batas Untuk Lolos SKD, peserta harus mencapai skor 300 dengan rincian, tes karakteristik pribadi skor 143, tes wawasan kebangsaan 75 skor dan tes intelegensia umum 80 skor. Untuk itu, saran penulis, peserta seleksi perlu mempersiapkan diri menjelang tes dengan memperbanyak latihan soal dan menjaga stamina dan kesehatan sehingga fit pada hari tes. 

Kita semua berharap, seleksi penerimaan CPNS yang telah diatur sedemikian rupa dengan sistem komputer ini dapat terbebas dari praktik-praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Tidak ada lagi pandangan masyarakat mengatakan tes CPNS hanya untuk meluluskan orang-orang dekat pejabat. Orang-orang titipan.

Jika proses seleksi telah dilakukan dengan bersih, jujur dan transparan, maka penulis berkeyakinan bahwa cita-cita reformasi birokrasi yang selama ini dikampanyekan pemerintah akan segera terwujud. Dengan begitu, cita-cita luhur bangsa Indonesia untuk mewujudkan Indoensia sebagai bangsa yang maju dan sejahtera bukanlah hal yang mustahil lagi. (*)