Museum Nyonya Meneer tak Untungkan Sido Muncul

Wartawan : JPNN • Editor : Elsy • 2017-10-13 13:18:00

Sido Muncul masih menimbang-nimbang pemanfaatan aset yang dibeli dari PT Nyonya Meneer. Aset yang dibeli lewat lelang tersebut berupa tanah dan bangunan senilai Rp 21,9 miliar. Tanah seluas 24.475 meter persegi itu terletak di Jalan Soekarno-Hatta Km. 28, Desa Bergas Kidul, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Corporate Secretary PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk Tiur Simamora menyatakan, perseroan belum memutuskan akan digunakan untuk apa aset tersebut. ”Sementara ini sedang dikaji ke depan mau dijadikan apa. Sementara kami penuhi dulu perizinannya untuk balik nama,” katanya kemarin (12/10).

Aset yang dibeli Sido Muncul dari Nyonya Meneer itu dulu merupakan taman dan museum edukasi bernama Taman Djamoe Indonesia. Taman tersebut didirikan Lauw Ping Nio atau yang kini dikenal sebagai Nyonya Meneer. Taman itu mulai dibuka untuk umum pada 28 Februari 2011. Taman tersebut berisi tanaman-tanaman bahan baku jamu. Di sana, masyarakat bisa mempelajari obat-obatan tradisional beserta cara pembuatan jamu. Masyarakat pun dapat membeli produk jamu dan makanan tradisional lainnya.

Namun, taman itu berhenti beroperasi sejak Nyonya Meneer dinyatakan pailit oleh PN Semarang pada 3 Agustus 2017. Kepailitan Nyonya Meneer terjadi karena tuntutan dari salah seorang kreditornya, Hendrianto Bambang Santoso. Sejak saat itu, para kreditor mengajukan tagihan utang mencapai Rp 252,8 miliar kepada perusahaan yang berdiri hampir seabad tersebut. 

Analis senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menuturkan, taman yang dibeli Sido Muncul itu bisa jadi tidak membawa keuntungan bagi perseroan. Sebab, emiten berkode saham SIDO tersebut hanya membeli taman edukasi yang bahkan belum diputuskan bakal dijadikan sebagai apa. Jika Sido Muncul mempertahankan aset tersebut sebagai taman jamu, itu hanya akan memperluas kegiatan corporate social responsibility (CSR) perseroan. Bahkan, aset tersebut bisa menjadi beban perseroan jika tidak dikelola dengan strategi yang baik. 

Sebab, masyarakat yang datang ke taman itu belum tentu membeli jamu maupun produk lain yang dijual di sana. ”Kecuali, kalau yang dibeli dari Nyonya Meneer itu mesin ya. Atau jika mereka mengubah taman dan museum itu menjadi perluasan pabrik sehingga meningkatkan kapasitas produksi dan menambah pendapatan,” ujarnya. (*)