Tol Sumatera Rampung 580 Km

Wartawan : JPNN • Editor : Elsy • 2017-10-13 13:33:01

Kemarin Tol Palembang Diresmikan, Hari Ini Dua Ruas di Sumut

Pemerintah menargetkan pembangunan jalan tol di Pulau Sumatera sepanjang 1.850 kilometer rampung dibangun sampai akhir tahun 2019 mendatang. Untuk tahun ini, pembangunan tol membentang dari Aceh sampai Lampung itu selesai 580 km.

Presiden Jokowi menegaskan itu sewaktu meresmikan Jalan Tol Palembang-Indralaya (Palindra) Seksi 1 Palembang-Pamulutan di Kabupaten Ogan Ilir, Sumsel, kemarin (12/10). Jokowi meminta biaya masuk jalan tol ini digratiskan sementara hingga akhir 2017.

“Tol Trans Sumatera banyak yang sudah jadi. Ini Sumsel Tol Palindra sudah. Aceh akhir tahun akan dimulai (pembangunan tol, red),” kata Jokowi. Jalan Tol Palindra ini memiliki panjang 22 kilometer. Tol tersebut menghubungkan Kabupaten Ogan Ilir dan Kota Palembang.

Terdapat tiga seksi yang dikerjakan. Pada seksi pertama Palembang-Pemulutan memiliki panjang 21,93 kilometer telah rampung. Untuk seksi dua yang menghubungkan Pamulutan-Kota Terpadu Mandiri (KTM) memiliki panjang 4,9 kilometer, dan progress pembangunan telah mencapai 89,7 persen. Di seksi tiga, menghubungkan KTM Rambutan-Indralaya dengan panjang 9,28 kilometer, mencapai progress pembangunan 96,6 persen.

“Saya melihat Tol Palembang-Indralaya ini medannya sangat berat sekali. Di sini ada rawa-rawa, perlu konstruksi khusus. Saya juga lihat waktu proses penyedotan airnya, berat,” kata Jokowi di Gerbang Tol Palindra, Palembang.

Selain itu, lanjut Jokowi, hal ini merupakan jalan tol pertama di Sumsel. “Saya sangat senang sekali karena ini adalah jalan tol yang pertama yang ada di Sumatera Selatan,” katanya. Untuk itu, Jokowi ingin biaya masuk Jalan Tol Palindra digratiskan sementara waktu. Dia bahkan menanyakan langsung kepada pihak pengelola terkait permintaannya ini.

“Jalan tol ini kan bayar, saya minta supaya ini dilihat dan dinikmati oleh masyarakat di awal-awal ini sampai akhir tahun, tolong jangan dipungut dulu. Cuma dua bulan,” kata Jokowi. “Pemiliknya bisa ndak? Jangan siap, siap saja, benar lho ini,” terang Jokowi.

Jokowi sendiri mengaku sengaja datang dan meresmikan langsung jalan tol ini. Sebab, jika tidak didatangi, pengerjaannya akan lambat. “Kenapa saya datang? Karena saya ingin beri semangat, motivasi. Karena saya dengar dua, tiga bulan lalu masih ada pembebasan tanah yang belum selesai. Terus pas saya mau datang ke sini, saya tanya Menteri BUMN, ‘Bagaimana persoalan tanahnya? ’Sudah Pak.’ Ini artinya, memang harus sering didatangi agar cepat selesai,” terang Jokowi.

Jokowi menjelaskan, pembangunan jalan tol di luar Pulau Jawa sendiri untuk memperkuatkan perekonomian negara. Nantinya, seluruh pulau di Indonesia akan terhubung dengan jalan tol, sehingga distribusi barang di seluruh daerah bisa masuk dengan cepat dan harga murah. “Karena mobilitas tinggi, jelas barang akan murah. Harga akan turun. Tol dibangun dari Barat ke Timur dari Timur ke Barat, sekarang sudah dimulai,” ucapnya.

Jalan Tol Medan

Di sisi lain, hari ini (13/10), Presiden Jokowi dijadwalkan meresmikan dua ruas tol Trans Sumatera, salah satunya tol Binjai-Medan seksi 2 dan 3 (Helvetia-Binjai) sepanjang 10,46 km. Sebelum diresmikan pengoperasiannya, tol ini sempat dibuka pada Juni 2017 untuk mendukung arus lalu lintas mudik Lebaran 2017. 

Selain itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pernah menjajal tol Medan-Binjai pada Minggu, 24 September 2017 lalu. Budi mengaku puas dan mengapresiasi pembangunan jalan tol karena bisa menjadi solusi kemacetan di jalan yang menghubungkan kedua daerah itu. “Dengan selesainya jalan tol maka Binjai dan Kota Medan akan semakin produktif,” katanya.

Dia mengatakan, jalan tol juga akan meningkatkan pelayanan turis dan pendatang. Namun dia mengharapkan agar pembangunan jalan tol tetap memperhatikan kegiatan ekonomi dan wisata yang telah ada di sekitar jalan tol.

Budi mengingatkan tempat istirahat (rest area) di jalan tol harus menyajikan produk lokal, misalnya kalau daerah itu penghasil durian maka rest area harus menampung durian warga lokal. “Kita tidak mau kota kehilangan identitas,” tegasnya. (*)