Bayang-bayang

Wartawan : JPNN • Editor : Yogi • 2017-10-22 11:22:26

Karya : Rosi Dayanti                

Tatapku pada gelap tak kukenali
Aku diam bisu dan tuli
”Cukup! Berhenti memainkanku!”
”Hei, siapa disitu?”
Tanyaku pada siluet gelap
Yang samarkan wajah asing dibalik tanya tanpa jawab

Ia terus menatapku
Mengamatiku tanpa ragu
Memperhatikan jarak langkah pemisah
Ia meringis dan mendesah

”Stop! Jangan kau ikuti aku”
Tapi ia terus mendekatiku
Nafasnya dingin sekali
Membekukan ulu hati

Aku terpaku, aku membatu
Ia menyapaku, menggenggam dan mengikatku

Sunyi memakan tubuhku
Dan ia gelak menertawakanku

Saat Hujan

Hening bercerita, tak banyak kata
Sepi bercanda, tak ada tawa
Hujan datang, kamu tak datang

Kutikam saja kenang
Kubunuh saja bayang

Penat teriak dalam diam
Tak kau dengar
Penat rindu menunggu
Tak kau jemput (*)

Untuk Kamu

Aku mencinta hujan
Menyayang rintik, merindu deras, dan
Memuji tiap jengkal dinginnya

Kau mencandu kopi
Mendekap seduh, mencumbu hangat
Mengecup tiap rasa dan aromanya

Hujan bercerita cinta padaku
Kopi memadu kasih padamu

Tiba-tiba hujan mengetuk pintu
Kau mengaduh merapuh
Aku menyeru merayu
Kita memang berbeda

Lalu dua cangkir kopi tertuang hangat
Tepat dimeja pecahan sumpahmu
Di meja serakan serapahku
Kau berbinar-binar
Aku diam membatu
Kita tak sama

Lalu ruang berbisik
”Kau butuh kopi agar dingin hujanmu makin menenangkan,
Dan kau butuh hujan agar hangat kopimu makin melenakan” (*)