Ferguson Warman, Siswa SMKN 4 Pariaman Guru Mengaji Segudang Prestasi

Wartawan : Aris Prima Gunawan - Padang Ekspres • Editor : Yogi • 2017-10-29 12:11:49

Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tidak selalu dapat dinilai bersikap ’cadas’. Buktinya Firgous Warman, 17, salah seorang siswa SMKN 4 Pariaman. Dia mampu berprestasi di bidang keagamaan. Bahkan, Firgous menjadi guru mengaji di salah satu mushala lingkungannya.

Firgous menceritakan, sejak SD dirinya tidak pernah sekolah formal di bidang agama, seperti Madrasah Ibtidaiyah (MI) ataupun Madrasah Tsanawiyah (MTs). Namun ketaatan beribadahlah yang membuatnya mampu baik dalam ilmu agama. “Mengaji itu wajib bagi umat Islam. Jadi bukan pilihan. Saya belajar mengaji sejak duduk di kelas 2 SD,” ujar Firgous kepada Padang Ekspres, Jumat (27/10).

Kata Firgous, dirinya memilih belajar sekolah formal di jenjang pendidikan kejuruan (SMK, red), karena ingin mendapatkan pengetahuan yang lebih luas. Selain itu, menilai lulusan SMK lebih memiliki peluang kerja yang besar. “Bukan berarti ilmu agama tidak bermanfaat. Bagi saya, percuma seseorang menguasai banyak ilmu, tetapi tidak taat dalam belajar agama,” kata anak ke empat pasangan Herman Tanjung dan Mawarni itu.

Selain bekal akhirat, menurut Firgous manfaat taat beribadah atau belajar agama, akan sangat terasa dibandingkan ilmu lain yang dimiliki seseorang. “Kalaupun pintar elektronik, tetapi tidak taat dalam ibadah, tidak tertutup kemungkinan kita bisa menjadi makhluk pengrusak,” ujarnya.

Untuk itu, Firgous memilih turut menanamkan ketaatan beribadah di lingkungannya. Yakni menjadi guru mengaji di salah satu mushala di kampungnya itu. “Saya mengajar mengaji setiap malam untuk adik-adik di kampung saya yang masih belajar di bangku SD dan SMP. Saya mengajar mengaji itu sejak kelas 3 SMP,” katanya.

Bagi Firgous, menjadi guru mengaji sama dengan melatih dirinya sendiri. Dia merasa senang rutin menjalani aktivitas mengajar tersebut, karena dengan sendiri dapat membantunya semakin baik dalam mengaji. “Kalau mengaji sendirikan sepi. Makanya saya memilih mengajar mengaji, biar lebih ramai. Ibadah bersama pahalanya juga diberi lebih oleh Allah SWT,” katanya.

 Sebagai sosok yang taat dalam beribadah, Firgous tidak merasa asing dalam pergaulannya di sekolah. Katanya, tidak seluruh pelajar di SMK dapat dinilai cadas atau keras dalam bergaul. “Pergaulan saya di sekolah biasa saja. Sebenarnya, pengaruh negatif dalam bergaul itu, tergantung kepada diri kita sendiri. Apakah kita menerima atau menolaknya,” ujar remaja kelahiran 22 Agustus 2000. (*)